SOCIAL MEDIA

Haruskah Anakku Homeschooling?

11/06/20

Satu hikmah yang bisa kita dapatkan dari terjadinya pandemi COVID-19 adalah kembalinya peran keluarga sebagai pendidik utama bagi anak. Pandemi “memaksa” orang tua kembali mempraktikan aktivitas belajar di rumah dengan orang tua sebagai pengajar. Sesungguhnya, konsep keluarga adalah guru pertama dan utama bagi anak bukan merupakan hal yang baru. Tidak heran disebut demikian, karena keluarga adalah milieu (lingkungan sosial) pertama dan paling dekat dengan anak sehingga di lingkungan keluarga lah anak belajar mengenai banyak hal untuk pertama kali.



Maya Hayati Rasyid, seorang praktisi homeschooling dan pengampu pesantren Askar Kauny, menjelaskan bahwa guru dan sekolah adalah partner. Visi dan tujuan utama pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab utama dari orang tua. Hal senada juga diungkapkan oleh psikolog Okina Fitriani, bahwa sekolah yang bagus adalah bonus. Sekolah membantu orang tua, bukan kemudian pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada guru dan sekolah.

Pandemi yang kita hadapi mengingatkan kembali pada hal tersebut. Tidak hanya itu, pandemi juga menimbulkan pemikiran dan pertanyaan baru untuk orang tua terkait pendidikan anak. Misalnya: apakah efektif metode belajar yang sedang dijalani? Sudahkah guru dan sekolah memenuhi harapan orang tua? Apakah orang tua setuju dengan kurikulum dan sistem yang diterapkan?

Beberapa orang tua mengungkapkan bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak mereka, justru menimbulkan pertanyaan baru: Haruskah kami homeschooling anak kami? Apakah kami mampu menjadi guru bagi anak kami?
Sesungguhnya, orang tua sendiri lah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Orang tua yang mampu menilai situasi yang dihadapi saat ini sesuai dengan visi dan harapan orang tua. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang lebih benar, antara tetap bersekolah atau homeschooling. Pilihan yang diambil oleh orang tua pasti akan didasarkan pada pertimbangan terkait kebaikan anak dan kondisi masing-masing keluarga.

Apa yang perlu kami lakukan, jika kami yakin memutuskan untuk homeschooling (baik untuk tentatif menunggu perkembangan pandemi ataupun long term) ? 

1. Refocus. Diskusikan kembali dengan pasangan mengenai visi dan harapan yang ingin dicapai. Pastikan bahwa orang tua  on the same page (memiliki pemahaman dan sama). Diskusikan juga langkah-langkah, kurikulum, bentuk kegiatan belajar, dan kebutuhan yang diperlukan. Minta persetujuan dari anak agar anak memahami akan terjadi perubahan rutinitas di rumah dan porsi belajar yang bertambah di rumah.

2. Sadari dan terima bahwa orang tua perlu memberikan waktu, tenaga, dan pikiran yang ekstra dari biasanya. Kelelahan dan kejenuhan sangat mungkin terjadi pada orang tua,  sehingga perlu diantisipasi jika terjadi di kemudian hari (misalnya jadwal libur atau me time).

3. Cari informasi sebanyak-banyaknya dari sumber yang terpercaya mengenai kesetaraan homeschooling dengan sekolah formal. Hal ini mencakup perlu tidaknya ijazah (terlebih jika akan meneruskan ke sekolah formal) dan proses mendapatkannya jika diperlukan.

4. “Pasang” harapan orang tua secara realistis. Pahami usia, karakter, dan kondisi anak. Di tahap mana perkembangan anak saat ini? Tugas-tugas perkembangan apa saja yang perlu dikuasai anak sesuai dengan usianya? Apa saja yang sudah bisa dipelajari anak sesuai dengan usianya?

5. Mencari  “amunisi” kegiatan belajar. Amunisi yang dimaksud mencakup contoh kurikulum, ide kegiatan belajar, bahan belajar, media belajar, dan peralatan. Saat ini sudah banyak sekali resources yang bisa ditemukan di berbagai laman dan sosial media. Sumber-sumber yang menyediakan banyak ide dapat dibaca di sini.

6. Ikut atau buat komunitas. Tidak menjadi keharusan untuk bergabung dalam suatu komunitas. Beberapa manfaat yang didapatkan saat mengikuti komunitas: saling bertukar ide, saling memberikan dukungan, dan bisa menyelenggarakan kegiatan bersama baik secara tatap muka maupun online. Jika tidak menemukan komunitas yang dekat dengan lokasi tempat tinggal, Anda bisa membentuk komunitas bersama rekan-rekan yang memiliki keinginan serupa.

7. Buat jadwal kegiatan. Diskusikan jadwal kegiatan belajar bersama anak. Jadwal belajar di rumah bisa disusun fleksibel. Tidak harus di satu rentang waktu. Anda bisa membagi jadwal di waktu pagi, sore, atau malam. Sebagai contoh: pagi jadwal belajar sholat dan kegiatan sensori motorik sedangkan selepas Maghrib jadwal untuk belajar mengaji atau murojaah.

8. Konsisten dan sabar. Mengutip kembali perkataan Maya Hayati Rasyid, bahwa kunci dari melaksanakan homeschooling adalah konsisten menjalankan komitmen yang sudah dibuat dan bersabar menghadapi tantangan-tantangan yang muncul. Sadari pula bahwa tidak hanya anak yang belajar, orang tua juga berada dalam proses belajar. Tidak akan ada yang langsung berjalan sempurna. Sedikit demi sedikit anak dan orang tua sama-sama belajar untuk masuk ke aktivitas belajar.

Novita, M. Psi, Psi


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Instagram