SOCIAL MEDIA

Hal yang Perlu Dilakukan di Kala Pandemi COVID-19 untuk Mengatasi Rasa Cemas

10/06/20


Rasa cemas dan panik di kala pandemi COVID-19 seperti saat ini, perlu dihidari. Rasa cemas dan panik tidak hanya berdampak negatif bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan. Dampak negatif dari rasa panik dan cemas di saat pandemi dapat dibaca di artikel ini. Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menghadapi pandemi dengan cara yang positif.

1.    Diet atau Stop Akses Berita tentang COVID-19 dan Media Sosial
Terlalu banyak terpapar informasi dapat meningkatkan rasa ketidakpastian, ketakutan, dan kecemasan. Banjir informasi melalui media sosial (termasuk group chat) terbukti dapat lebih meningkatkan kecemasan dibanding dengan media seperti televisi dan radio. Untuk mengurangi rasa cemas, kita dapat mengurang (diet) paparan berita dan informasi mengenai COVID-19. Diet berita dan informasi ini dapat berupa: hanya mencari berita di sumber-sumber tertentu yang dapat dipercaya atau mengurangi waktu kita mencari atau membaca berita mengenai COVID-19. Jika kita merasa bahwa kita sudah bener-benar cemas atau panik, maka stop segala kegiatan yang bersifat update informasi COVID-19.



Diet atau Stop Akses Media

Pastikan juga sumber informasi yang kita dapatkan hanya dari sumber yang terpercaya. Verifikasi dulu informasi yang kita dapat, jangan mudah menyebarkan informasi karena bisa jadi informasi yang diterima adalah hoax.

Sumber Informasi yang Terpercaya


2.    Biasakan Pola Hidup Sehat
Dari pandemi ini kita belajar untuk membangun kebiasaan perilaku hidup sehat dari yang mendasar seperti cuci tangan, mandi, memakai masker saat sakit, dsb. Kebiasaan hidup sehat seperti ini semakin terasa manfaat dan urgensinya sekarang. Kita juga perlu melaksanakan anjuran-anjuran dari WHO dan Kemkes terkait pandemi COVID-19. Jika badan kita sehat, maka rasa cemas dapat berkurang. Di saat pandemi, sedikit gejala sakit bisa menimbulkan kekhawatiran.

3.    Bangun Rutinitas
Untuk mengurangi rasa uncertainty (ketidakpastian), rasa bosan, dan memperkuat kendali diri, kita perlu membangun rutinitas di rumah. Rutinitas ini dapat membantu kita untuk tetap merasa “normal” karena memiliki aktivitas-aktivitas yang perlu dikerjakan. Cara membangun rutinitas antara lain dengan membuat jadwal keseharian, mencari bahan belajar untuk anak-anak, mengerjakan hobi, dan mencari aktivitas yang bisa dilaksanakan oleh keluarga.

4.    Beribadah
Salah satu faktor yang meningkatkan kecemasan dan depresi pada masa pandemi adalah berkurangnya religious resources karena dibatasinya tempat ibadah dan tidak diperbolehkannya melakukan kegiatan berkelompok. Meski tidak bisa bersama-sama beribadah seperti biasanya, kita tetap dapat melaksanakan ibadah di rumah sesuai dengan anjuran pemuka agama masing-masing. Justru saat ini, bisa menjadi momen yang tepat untuk kita lebih khusyuk dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

5.    Connect with Others
Berkurangnya kegiatan dan dukungan sosial dapat memunculkan rasa bosan, kesepian, marah, dan ccemas. Stay connect with others dapat mengurangi perasaan-perasaan tersebut. Kita bisa tetap saling berhubungan dengan teman dan keluarga melalui media sosial dan membicarakan hal-hal positif. Jika perlu, Anda dapat membangun support group online dan merencanakan kegiatan-kegiatan yang positif. Kita juga perlu mengungkapkan emosi-emosi yang kita rasakan kepada keluarga maupun teman atau keluarga yang lokasi berjauhan. Dengan mengungkapkan emosi atau perasaan, kita bisa mendapatkan dukungan sosial yang diperlukan.

6.    Pelajari Teknik yang Dapat Mengurangi Emosi Negatif
Terkadang rasa akan adanya krisis atau ancaman berasal dari kondisi emosi kita, bukan berasal dari melihat data atau informasi. Oleh karena itu, kita perlu juga menguasai keterampilan-keterampilan sederhana yang dapat membantu kita untuk mengelola emosi seperti teknik relaksasi pernafasan, teknik relaksasi otot progresif, teknik relaksasi visualisasi, atau membuat jurnal kebersyukuran setiap hari.

7.    Ubah Perspektif terhadap Situasi
Seringkali kita berfokus pada hal negatif dalam menghadapi krisis. Kita bisa mencoba ubah perspektif kita, dengan mencari hal-hal positif dari situasi yang sekarang kita hadapi. Misalnya (IPK Kaltim, 2020): peran ayah dan ibu kembali ke keluarga, keluarga bisa berkomunikasi lebih intens, mengasah kepekaan atau kepedulian kepada sesama, menambah keimanan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membangun quality time dengan keluarga.



8.    Minta Bantuan Psikolog atau Psikiater jika Diperlukan
Jika Anda merasakan hal-hal berikut ini, segeralah meminta bantuan pada tenaga kesehatan mental profesional (psikolog atau psikiater) terdekat:
a.       Kesulitan tidur (tidak bisa tidur atau mimpi buruk)
b.      Perubahan pola makan yang ekstrim (dapat terlalu banyak makan atau kehilangan nafsu makan)
c.       Merasa sedih terus menerus
d.      Merasa gelisah terus menerus
e.      Sulit berkonsentrasi sehingga sulit menganggu pekerjaan dan aktivitas
f.        Sering merasakan sensasi fisik yang tidak biasa ketika berpikir, mendengar, atau membaca tentang COVID-19 (seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, kaki lemas, dll)
g.       Keinginan bunuh diri atau menyakiti diri dan orang lain karena merasa sakit atau takut tertular/menularkan
h.      Mengalami rasa takut akan kematian yang terus-menerus


Novita, M. Psi, Psi



Daftar Pustaka

APA.2020. Keeping Your Distance to Stay Safe. Diakses dari https://www.apa.org/practice/programs/dmhi/researchinformation/social-distancing

APA. 2020. Five Ways to View Coverage of the Coronavirus. Diakses dari https://www.apa.org/helpcenter/pandemics

Greenbaum, Z. 2020. Psychologist Lead Innovative Approach to Tackle Psychological Toll of COVID-19. 10 Maret 2020. Diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/psychologist-covid-19

IPK Kaltim( https://www.instagram.com/p/B-EYXaEHrxZ/ )

Robinson, B. 2020. The Psychology of Uncertainty: How to Cope with COVID-19 Anxiety. 12 Maret 2020. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2020/03/12/the-psychology-of-uncertainty-how-to-cope-with-covid-19-anxiety/#1fd0cac1394a

Weir, K. 2020. Seven Crucial Reasearch Findings that Can Help People Deal with COVID-19. 16 Maret 2020. diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/covid-19-research-findings


Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Instagram