SOCIAL MEDIA

Satu hikmah yang bisa kita dapatkan dari terjadinya pandemi COVID-19 adalah kembalinya peran keluarga sebagai pendidik utama bagi anak. Pandemi “memaksa” orang tua kembali mempraktikan aktivitas belajar di rumah dengan orang tua sebagai pengajar. Sesungguhnya, konsep keluarga adalah guru pertama dan utama bagi anak bukan merupakan hal yang baru. Tidak heran disebut demikian, karena keluarga adalah milieu (lingkungan sosial) pertama dan paling dekat dengan anak sehingga di lingkungan keluarga lah anak belajar mengenai banyak hal untuk pertama kali.



Maya Hayati Rasyid, seorang praktisi homeschooling dan pengampu pesantren Askar Kauny, menjelaskan bahwa guru dan sekolah adalah partner. Visi dan tujuan utama pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab utama dari orang tua. Hal senada juga diungkapkan oleh psikolog Okina Fitriani, bahwa sekolah yang bagus adalah bonus. Sekolah membantu orang tua, bukan kemudian pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada guru dan sekolah.

Pandemi yang kita hadapi mengingatkan kembali pada hal tersebut. Tidak hanya itu, pandemi juga menimbulkan pemikiran dan pertanyaan baru untuk orang tua terkait pendidikan anak. Misalnya: apakah efektif metode belajar yang sedang dijalani? Sudahkah guru dan sekolah memenuhi harapan orang tua? Apakah orang tua setuju dengan kurikulum dan sistem yang diterapkan?

Beberapa orang tua mengungkapkan bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak mereka, justru menimbulkan pertanyaan baru: Haruskah kami homeschooling anak kami? Apakah kami mampu menjadi guru bagi anak kami?
Sesungguhnya, orang tua sendiri lah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Orang tua yang mampu menilai situasi yang dihadapi saat ini sesuai dengan visi dan harapan orang tua. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang lebih benar, antara tetap bersekolah atau homeschooling. Pilihan yang diambil oleh orang tua pasti akan didasarkan pada pertimbangan terkait kebaikan anak dan kondisi masing-masing keluarga.

Apa yang perlu kami lakukan, jika kami yakin memutuskan untuk homeschooling (baik untuk tentatif menunggu perkembangan pandemi ataupun long term) ? 

1. Refocus. Diskusikan kembali dengan pasangan mengenai visi dan harapan yang ingin dicapai. Pastikan bahwa orang tua  on the same page (memiliki pemahaman dan sama). Diskusikan juga langkah-langkah, kurikulum, bentuk kegiatan belajar, dan kebutuhan yang diperlukan. Minta persetujuan dari anak agar anak memahami akan terjadi perubahan rutinitas di rumah dan porsi belajar yang bertambah di rumah.

2. Sadari dan terima bahwa orang tua perlu memberikan waktu, tenaga, dan pikiran yang ekstra dari biasanya. Kelelahan dan kejenuhan sangat mungkin terjadi pada orang tua,  sehingga perlu diantisipasi jika terjadi di kemudian hari (misalnya jadwal libur atau me time).

3. Cari informasi sebanyak-banyaknya dari sumber yang terpercaya mengenai kesetaraan homeschooling dengan sekolah formal. Hal ini mencakup perlu tidaknya ijazah (terlebih jika akan meneruskan ke sekolah formal) dan proses mendapatkannya jika diperlukan.

4. “Pasang” harapan orang tua secara realistis. Pahami usia, karakter, dan kondisi anak. Di tahap mana perkembangan anak saat ini? Tugas-tugas perkembangan apa saja yang perlu dikuasai anak sesuai dengan usianya? Apa saja yang sudah bisa dipelajari anak sesuai dengan usianya?

5. Mencari  “amunisi” kegiatan belajar. Amunisi yang dimaksud mencakup contoh kurikulum, ide kegiatan belajar, bahan belajar, media belajar, dan peralatan. Saat ini sudah banyak sekali resources yang bisa ditemukan di berbagai laman dan sosial media. Sumber-sumber yang menyediakan banyak ide dapat dibaca di sini.

6. Ikut atau buat komunitas. Tidak menjadi keharusan untuk bergabung dalam suatu komunitas. Beberapa manfaat yang didapatkan saat mengikuti komunitas: saling bertukar ide, saling memberikan dukungan, dan bisa menyelenggarakan kegiatan bersama baik secara tatap muka maupun online. Jika tidak menemukan komunitas yang dekat dengan lokasi tempat tinggal, Anda bisa membentuk komunitas bersama rekan-rekan yang memiliki keinginan serupa.

7. Buat jadwal kegiatan. Diskusikan jadwal kegiatan belajar bersama anak. Jadwal belajar di rumah bisa disusun fleksibel. Tidak harus di satu rentang waktu. Anda bisa membagi jadwal di waktu pagi, sore, atau malam. Sebagai contoh: pagi jadwal belajar sholat dan kegiatan sensori motorik sedangkan selepas Maghrib jadwal untuk belajar mengaji atau murojaah.

8. Konsisten dan sabar. Mengutip kembali perkataan Maya Hayati Rasyid, bahwa kunci dari melaksanakan homeschooling adalah konsisten menjalankan komitmen yang sudah dibuat dan bersabar menghadapi tantangan-tantangan yang muncul. Sadari pula bahwa tidak hanya anak yang belajar, orang tua juga berada dalam proses belajar. Tidak akan ada yang langsung berjalan sempurna. Sedikit demi sedikit anak dan orang tua sama-sama belajar untuk masuk ke aktivitas belajar.

Novita, M. Psi, Psi


Haruskah Anakku Homeschooling?

11/06/20

Satu hikmah yang bisa kita dapatkan dari terjadinya pandemi COVID-19 adalah kembalinya peran keluarga sebagai pendidik utama bagi anak. Pandemi “memaksa” orang tua kembali mempraktikan aktivitas belajar di rumah dengan orang tua sebagai pengajar. Sesungguhnya, konsep keluarga adalah guru pertama dan utama bagi anak bukan merupakan hal yang baru. Tidak heran disebut demikian, karena keluarga adalah milieu (lingkungan sosial) pertama dan paling dekat dengan anak sehingga di lingkungan keluarga lah anak belajar mengenai banyak hal untuk pertama kali.



Maya Hayati Rasyid, seorang praktisi homeschooling dan pengampu pesantren Askar Kauny, menjelaskan bahwa guru dan sekolah adalah partner. Visi dan tujuan utama pendidikan anak tetap menjadi tanggung jawab utama dari orang tua. Hal senada juga diungkapkan oleh psikolog Okina Fitriani, bahwa sekolah yang bagus adalah bonus. Sekolah membantu orang tua, bukan kemudian pendidikan anak diserahkan sepenuhnya kepada guru dan sekolah.

Pandemi yang kita hadapi mengingatkan kembali pada hal tersebut. Tidak hanya itu, pandemi juga menimbulkan pemikiran dan pertanyaan baru untuk orang tua terkait pendidikan anak. Misalnya: apakah efektif metode belajar yang sedang dijalani? Sudahkah guru dan sekolah memenuhi harapan orang tua? Apakah orang tua setuju dengan kurikulum dan sistem yang diterapkan?

Beberapa orang tua mengungkapkan bahwa jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak mereka, justru menimbulkan pertanyaan baru: Haruskah kami homeschooling anak kami? Apakah kami mampu menjadi guru bagi anak kami?
Sesungguhnya, orang tua sendiri lah yang mampu menjawab pertanyaan tersebut. Orang tua yang mampu menilai situasi yang dihadapi saat ini sesuai dengan visi dan harapan orang tua. Tidak ada yang salah dan tidak ada yang lebih benar, antara tetap bersekolah atau homeschooling. Pilihan yang diambil oleh orang tua pasti akan didasarkan pada pertimbangan terkait kebaikan anak dan kondisi masing-masing keluarga.

Apa yang perlu kami lakukan, jika kami yakin memutuskan untuk homeschooling (baik untuk tentatif menunggu perkembangan pandemi ataupun long term) ? 

1. Refocus. Diskusikan kembali dengan pasangan mengenai visi dan harapan yang ingin dicapai. Pastikan bahwa orang tua  on the same page (memiliki pemahaman dan sama). Diskusikan juga langkah-langkah, kurikulum, bentuk kegiatan belajar, dan kebutuhan yang diperlukan. Minta persetujuan dari anak agar anak memahami akan terjadi perubahan rutinitas di rumah dan porsi belajar yang bertambah di rumah.

2. Sadari dan terima bahwa orang tua perlu memberikan waktu, tenaga, dan pikiran yang ekstra dari biasanya. Kelelahan dan kejenuhan sangat mungkin terjadi pada orang tua,  sehingga perlu diantisipasi jika terjadi di kemudian hari (misalnya jadwal libur atau me time).

3. Cari informasi sebanyak-banyaknya dari sumber yang terpercaya mengenai kesetaraan homeschooling dengan sekolah formal. Hal ini mencakup perlu tidaknya ijazah (terlebih jika akan meneruskan ke sekolah formal) dan proses mendapatkannya jika diperlukan.

4. “Pasang” harapan orang tua secara realistis. Pahami usia, karakter, dan kondisi anak. Di tahap mana perkembangan anak saat ini? Tugas-tugas perkembangan apa saja yang perlu dikuasai anak sesuai dengan usianya? Apa saja yang sudah bisa dipelajari anak sesuai dengan usianya?

5. Mencari  “amunisi” kegiatan belajar. Amunisi yang dimaksud mencakup contoh kurikulum, ide kegiatan belajar, bahan belajar, media belajar, dan peralatan. Saat ini sudah banyak sekali resources yang bisa ditemukan di berbagai laman dan sosial media. Sumber-sumber yang menyediakan banyak ide dapat dibaca di sini.

6. Ikut atau buat komunitas. Tidak menjadi keharusan untuk bergabung dalam suatu komunitas. Beberapa manfaat yang didapatkan saat mengikuti komunitas: saling bertukar ide, saling memberikan dukungan, dan bisa menyelenggarakan kegiatan bersama baik secara tatap muka maupun online. Jika tidak menemukan komunitas yang dekat dengan lokasi tempat tinggal, Anda bisa membentuk komunitas bersama rekan-rekan yang memiliki keinginan serupa.

7. Buat jadwal kegiatan. Diskusikan jadwal kegiatan belajar bersama anak. Jadwal belajar di rumah bisa disusun fleksibel. Tidak harus di satu rentang waktu. Anda bisa membagi jadwal di waktu pagi, sore, atau malam. Sebagai contoh: pagi jadwal belajar sholat dan kegiatan sensori motorik sedangkan selepas Maghrib jadwal untuk belajar mengaji atau murojaah.

8. Konsisten dan sabar. Mengutip kembali perkataan Maya Hayati Rasyid, bahwa kunci dari melaksanakan homeschooling adalah konsisten menjalankan komitmen yang sudah dibuat dan bersabar menghadapi tantangan-tantangan yang muncul. Sadari pula bahwa tidak hanya anak yang belajar, orang tua juga berada dalam proses belajar. Tidak akan ada yang langsung berjalan sempurna. Sedikit demi sedikit anak dan orang tua sama-sama belajar untuk masuk ke aktivitas belajar.

Novita, M. Psi, Psi



Rasa cemas dan panik di kala pandemi COVID-19 seperti saat ini, perlu dihidari. Rasa cemas dan panik tidak hanya berdampak negatif bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan. Dampak negatif dari rasa panik dan cemas di saat pandemi dapat dibaca di artikel ini. Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menghadapi pandemi dengan cara yang positif.

1.    Diet atau Stop Akses Berita tentang COVID-19 dan Media Sosial
Terlalu banyak terpapar informasi dapat meningkatkan rasa ketidakpastian, ketakutan, dan kecemasan. Banjir informasi melalui media sosial (termasuk group chat) terbukti dapat lebih meningkatkan kecemasan dibanding dengan media seperti televisi dan radio. Untuk mengurangi rasa cemas, kita dapat mengurang (diet) paparan berita dan informasi mengenai COVID-19. Diet berita dan informasi ini dapat berupa: hanya mencari berita di sumber-sumber tertentu yang dapat dipercaya atau mengurangi waktu kita mencari atau membaca berita mengenai COVID-19. Jika kita merasa bahwa kita sudah bener-benar cemas atau panik, maka stop segala kegiatan yang bersifat update informasi COVID-19.



Diet atau Stop Akses Media

Pastikan juga sumber informasi yang kita dapatkan hanya dari sumber yang terpercaya. Verifikasi dulu informasi yang kita dapat, jangan mudah menyebarkan informasi karena bisa jadi informasi yang diterima adalah hoax.

Sumber Informasi yang Terpercaya


2.    Biasakan Pola Hidup Sehat
Dari pandemi ini kita belajar untuk membangun kebiasaan perilaku hidup sehat dari yang mendasar seperti cuci tangan, mandi, memakai masker saat sakit, dsb. Kebiasaan hidup sehat seperti ini semakin terasa manfaat dan urgensinya sekarang. Kita juga perlu melaksanakan anjuran-anjuran dari WHO dan Kemkes terkait pandemi COVID-19. Jika badan kita sehat, maka rasa cemas dapat berkurang. Di saat pandemi, sedikit gejala sakit bisa menimbulkan kekhawatiran.

3.    Bangun Rutinitas
Untuk mengurangi rasa uncertainty (ketidakpastian), rasa bosan, dan memperkuat kendali diri, kita perlu membangun rutinitas di rumah. Rutinitas ini dapat membantu kita untuk tetap merasa “normal” karena memiliki aktivitas-aktivitas yang perlu dikerjakan. Cara membangun rutinitas antara lain dengan membuat jadwal keseharian, mencari bahan belajar untuk anak-anak, mengerjakan hobi, dan mencari aktivitas yang bisa dilaksanakan oleh keluarga.

4.    Beribadah
Salah satu faktor yang meningkatkan kecemasan dan depresi pada masa pandemi adalah berkurangnya religious resources karena dibatasinya tempat ibadah dan tidak diperbolehkannya melakukan kegiatan berkelompok. Meski tidak bisa bersama-sama beribadah seperti biasanya, kita tetap dapat melaksanakan ibadah di rumah sesuai dengan anjuran pemuka agama masing-masing. Justru saat ini, bisa menjadi momen yang tepat untuk kita lebih khusyuk dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

5.    Connect with Others
Berkurangnya kegiatan dan dukungan sosial dapat memunculkan rasa bosan, kesepian, marah, dan ccemas. Stay connect with others dapat mengurangi perasaan-perasaan tersebut. Kita bisa tetap saling berhubungan dengan teman dan keluarga melalui media sosial dan membicarakan hal-hal positif. Jika perlu, Anda dapat membangun support group online dan merencanakan kegiatan-kegiatan yang positif. Kita juga perlu mengungkapkan emosi-emosi yang kita rasakan kepada keluarga maupun teman atau keluarga yang lokasi berjauhan. Dengan mengungkapkan emosi atau perasaan, kita bisa mendapatkan dukungan sosial yang diperlukan.

6.    Pelajari Teknik yang Dapat Mengurangi Emosi Negatif
Terkadang rasa akan adanya krisis atau ancaman berasal dari kondisi emosi kita, bukan berasal dari melihat data atau informasi. Oleh karena itu, kita perlu juga menguasai keterampilan-keterampilan sederhana yang dapat membantu kita untuk mengelola emosi seperti teknik relaksasi pernafasan, teknik relaksasi otot progresif, teknik relaksasi visualisasi, atau membuat jurnal kebersyukuran setiap hari.

7.    Ubah Perspektif terhadap Situasi
Seringkali kita berfokus pada hal negatif dalam menghadapi krisis. Kita bisa mencoba ubah perspektif kita, dengan mencari hal-hal positif dari situasi yang sekarang kita hadapi. Misalnya (IPK Kaltim, 2020): peran ayah dan ibu kembali ke keluarga, keluarga bisa berkomunikasi lebih intens, mengasah kepekaan atau kepedulian kepada sesama, menambah keimanan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membangun quality time dengan keluarga.



8.    Minta Bantuan Psikolog atau Psikiater jika Diperlukan
Jika Anda merasakan hal-hal berikut ini, segeralah meminta bantuan pada tenaga kesehatan mental profesional (psikolog atau psikiater) terdekat:
a.       Kesulitan tidur (tidak bisa tidur atau mimpi buruk)
b.      Perubahan pola makan yang ekstrim (dapat terlalu banyak makan atau kehilangan nafsu makan)
c.       Merasa sedih terus menerus
d.      Merasa gelisah terus menerus
e.      Sulit berkonsentrasi sehingga sulit menganggu pekerjaan dan aktivitas
f.        Sering merasakan sensasi fisik yang tidak biasa ketika berpikir, mendengar, atau membaca tentang COVID-19 (seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, kaki lemas, dll)
g.       Keinginan bunuh diri atau menyakiti diri dan orang lain karena merasa sakit atau takut tertular/menularkan
h.      Mengalami rasa takut akan kematian yang terus-menerus


Novita, M. Psi, Psi



Daftar Pustaka

APA.2020. Keeping Your Distance to Stay Safe. Diakses dari https://www.apa.org/practice/programs/dmhi/researchinformation/social-distancing

APA. 2020. Five Ways to View Coverage of the Coronavirus. Diakses dari https://www.apa.org/helpcenter/pandemics

Greenbaum, Z. 2020. Psychologist Lead Innovative Approach to Tackle Psychological Toll of COVID-19. 10 Maret 2020. Diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/psychologist-covid-19

IPK Kaltim( https://www.instagram.com/p/B-EYXaEHrxZ/ )

Robinson, B. 2020. The Psychology of Uncertainty: How to Cope with COVID-19 Anxiety. 12 Maret 2020. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2020/03/12/the-psychology-of-uncertainty-how-to-cope-with-covid-19-anxiety/#1fd0cac1394a

Weir, K. 2020. Seven Crucial Reasearch Findings that Can Help People Deal with COVID-19. 16 Maret 2020. diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/covid-19-research-findings


Hal yang Perlu Dilakukan di Kala Pandemi COVID-19 untuk Mengatasi Rasa Cemas

10/06/20


Rasa cemas dan panik di kala pandemi COVID-19 seperti saat ini, perlu dihidari. Rasa cemas dan panik tidak hanya berdampak negatif bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan. Dampak negatif dari rasa panik dan cemas di saat pandemi dapat dibaca di artikel ini. Berikut ini adalah kiat-kiat untuk menghadapi pandemi dengan cara yang positif.

1.    Diet atau Stop Akses Berita tentang COVID-19 dan Media Sosial
Terlalu banyak terpapar informasi dapat meningkatkan rasa ketidakpastian, ketakutan, dan kecemasan. Banjir informasi melalui media sosial (termasuk group chat) terbukti dapat lebih meningkatkan kecemasan dibanding dengan media seperti televisi dan radio. Untuk mengurangi rasa cemas, kita dapat mengurang (diet) paparan berita dan informasi mengenai COVID-19. Diet berita dan informasi ini dapat berupa: hanya mencari berita di sumber-sumber tertentu yang dapat dipercaya atau mengurangi waktu kita mencari atau membaca berita mengenai COVID-19. Jika kita merasa bahwa kita sudah bener-benar cemas atau panik, maka stop segala kegiatan yang bersifat update informasi COVID-19.



Diet atau Stop Akses Media

Pastikan juga sumber informasi yang kita dapatkan hanya dari sumber yang terpercaya. Verifikasi dulu informasi yang kita dapat, jangan mudah menyebarkan informasi karena bisa jadi informasi yang diterima adalah hoax.

Sumber Informasi yang Terpercaya


2.    Biasakan Pola Hidup Sehat
Dari pandemi ini kita belajar untuk membangun kebiasaan perilaku hidup sehat dari yang mendasar seperti cuci tangan, mandi, memakai masker saat sakit, dsb. Kebiasaan hidup sehat seperti ini semakin terasa manfaat dan urgensinya sekarang. Kita juga perlu melaksanakan anjuran-anjuran dari WHO dan Kemkes terkait pandemi COVID-19. Jika badan kita sehat, maka rasa cemas dapat berkurang. Di saat pandemi, sedikit gejala sakit bisa menimbulkan kekhawatiran.

3.    Bangun Rutinitas
Untuk mengurangi rasa uncertainty (ketidakpastian), rasa bosan, dan memperkuat kendali diri, kita perlu membangun rutinitas di rumah. Rutinitas ini dapat membantu kita untuk tetap merasa “normal” karena memiliki aktivitas-aktivitas yang perlu dikerjakan. Cara membangun rutinitas antara lain dengan membuat jadwal keseharian, mencari bahan belajar untuk anak-anak, mengerjakan hobi, dan mencari aktivitas yang bisa dilaksanakan oleh keluarga.

4.    Beribadah
Salah satu faktor yang meningkatkan kecemasan dan depresi pada masa pandemi adalah berkurangnya religious resources karena dibatasinya tempat ibadah dan tidak diperbolehkannya melakukan kegiatan berkelompok. Meski tidak bisa bersama-sama beribadah seperti biasanya, kita tetap dapat melaksanakan ibadah di rumah sesuai dengan anjuran pemuka agama masing-masing. Justru saat ini, bisa menjadi momen yang tepat untuk kita lebih khusyuk dalam beribadah dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa.

5.    Connect with Others
Berkurangnya kegiatan dan dukungan sosial dapat memunculkan rasa bosan, kesepian, marah, dan ccemas. Stay connect with others dapat mengurangi perasaan-perasaan tersebut. Kita bisa tetap saling berhubungan dengan teman dan keluarga melalui media sosial dan membicarakan hal-hal positif. Jika perlu, Anda dapat membangun support group online dan merencanakan kegiatan-kegiatan yang positif. Kita juga perlu mengungkapkan emosi-emosi yang kita rasakan kepada keluarga maupun teman atau keluarga yang lokasi berjauhan. Dengan mengungkapkan emosi atau perasaan, kita bisa mendapatkan dukungan sosial yang diperlukan.

6.    Pelajari Teknik yang Dapat Mengurangi Emosi Negatif
Terkadang rasa akan adanya krisis atau ancaman berasal dari kondisi emosi kita, bukan berasal dari melihat data atau informasi. Oleh karena itu, kita perlu juga menguasai keterampilan-keterampilan sederhana yang dapat membantu kita untuk mengelola emosi seperti teknik relaksasi pernafasan, teknik relaksasi otot progresif, teknik relaksasi visualisasi, atau membuat jurnal kebersyukuran setiap hari.

7.    Ubah Perspektif terhadap Situasi
Seringkali kita berfokus pada hal negatif dalam menghadapi krisis. Kita bisa mencoba ubah perspektif kita, dengan mencari hal-hal positif dari situasi yang sekarang kita hadapi. Misalnya (IPK Kaltim, 2020): peran ayah dan ibu kembali ke keluarga, keluarga bisa berkomunikasi lebih intens, mengasah kepekaan atau kepedulian kepada sesama, menambah keimanan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan membangun quality time dengan keluarga.



8.    Minta Bantuan Psikolog atau Psikiater jika Diperlukan
Jika Anda merasakan hal-hal berikut ini, segeralah meminta bantuan pada tenaga kesehatan mental profesional (psikolog atau psikiater) terdekat:
a.       Kesulitan tidur (tidak bisa tidur atau mimpi buruk)
b.      Perubahan pola makan yang ekstrim (dapat terlalu banyak makan atau kehilangan nafsu makan)
c.       Merasa sedih terus menerus
d.      Merasa gelisah terus menerus
e.      Sulit berkonsentrasi sehingga sulit menganggu pekerjaan dan aktivitas
f.        Sering merasakan sensasi fisik yang tidak biasa ketika berpikir, mendengar, atau membaca tentang COVID-19 (seperti jantung berdebar-debar, keringat dingin, kaki lemas, dll)
g.       Keinginan bunuh diri atau menyakiti diri dan orang lain karena merasa sakit atau takut tertular/menularkan
h.      Mengalami rasa takut akan kematian yang terus-menerus


Novita, M. Psi, Psi



Daftar Pustaka

APA.2020. Keeping Your Distance to Stay Safe. Diakses dari https://www.apa.org/practice/programs/dmhi/researchinformation/social-distancing

APA. 2020. Five Ways to View Coverage of the Coronavirus. Diakses dari https://www.apa.org/helpcenter/pandemics

Greenbaum, Z. 2020. Psychologist Lead Innovative Approach to Tackle Psychological Toll of COVID-19. 10 Maret 2020. Diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/psychologist-covid-19

IPK Kaltim( https://www.instagram.com/p/B-EYXaEHrxZ/ )

Robinson, B. 2020. The Psychology of Uncertainty: How to Cope with COVID-19 Anxiety. 12 Maret 2020. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2020/03/12/the-psychology-of-uncertainty-how-to-cope-with-covid-19-anxiety/#1fd0cac1394a

Weir, K. 2020. Seven Crucial Reasearch Findings that Can Help People Deal with COVID-19. 16 Maret 2020. diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/covid-19-research-findings



Penyebaran Corona Virus Disease-19 (COVID-19) telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. COVID-19 telah menyebar luas ke berbagai benua dan negara. Pandemi COVID-19 bisa mempengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Pandemi dapat menjadi stressor bagi individu. Stressor merupakan hal-hal yang menyebabkan stress. Reaksi emosi yang bisa muncul akibat pandemi COVID-19 misalnya takut, cemas, bosan, frustrasi, marah, depresi, dll.



Mengapa pandemi COVID-19 bisa mempengaruhi kondisi psikologis seseorang? 

1) Munculnya pandemi COVID-19 dapat dipersepsikan sebagai suatu krisis oleh individu. Pandemi COVID-19 dapat dikategorikan sebagai situational crisis yaitu krisis yang terjadi secara tiba-tiba dan tidakterduga. Dengan adanya persepsi pandemi COVID-19 sebagai suatu krisis, individu merasakan adanya ancaman terhadap jiwa, kesehatan, ekonomi, dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

2) Individu meraskan adanya uncertainty (ketidakpastian). Efek dari pandemi yang sedang kita hadapi menimbulkan dampak seperti kegiatan ekonomi yang tersendat, sekolah diliburkan, kegiatan pembelajaran yang belum ditentukan pelaksanaannya, tempat ibadah yang dibatasi penggunaannya (bahkan sempat ditutup), dan kegiatan sosial yang mengerahkan massa yang tidak diperbolehkan. Dengan pertanyaan utama yaitu “kapan pandemi akan berakhir?” belum dapat dijawab, maka dampak-dampak tersebut masih akan kita hadapi sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. Hal ini lah yang menimbulkan rasa ketidakpastian bagi individu.

3) Adanya loss of control (kehilangan kendali diri) yang dirasakan individu. Adanya ancamab, perubahan rutinitas, ketidakpastian, dan pembatasan kegiatan sosial-religi dapat menimbulkan hilangnya rasa kendali terhadap diri sendiri dan situasi yang dihadapi. Individu merasa ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengendalikan situasi di sekelilingnya dan dampak yang dialaminya. Sebagai contoh, individu hanya bisa melihat angka pasien positif yang semakin hari semakin naik, tanpa dapat melakukan apa-apa. Ia juga tidak tahu tindakan yang perlu diambil untuk tetap mendapatkan penghasilan di tengah tersendatnya kegiatan perekonomian.

Ilustrasi dinamika psikologis yang mungkin terjadi di masyarakat:

Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini dapat dipersepsikan sebagai suatu ancaman bagi individu dan masyarakat. Selain merasakan COVID-19 sebagai ancaman bagi kesehatan dan jiwa diri serta keluarga,perubahan drastis dan ketidakpastian yang terjadi dilingkungan dapat semakin membuat individu merasa terancam dengan adanya kemungkinan berkurangnya pendapatan, kehilangan pekerjaan, tidak mendapat pasokan bahan kebutuhan pokok, dan tidak mendapat peralatan kesehatan dasar. Muncul reaksi emosi seperti khawatir, takut, dan cemas. Reaksi emosi yang intens dapat membuat individu mengalami loss of control (tidak mampu mengendalikan diri dan situasi). Individu dapat mengambil tindakan ekstrim untuk mengembalikan rasa aman dan kontrol dalam dirinya seperti panic buying. Atau dapat mengalami perasaan helplessnes (tidak berdaya).

Tetapi tidak semua orang akan bereaksi sama. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menganggapi stressor. Cara individu dalam menghadapi stressor disebut dengan coping mechanisme. Beberapa contoh perbedaan dalam menghadapi pandemi COVID-19 sebagai suatu stimulus:
1)      Acuh atau Menyepelekan. Individu tidak mempersepsi pandemi sebagai suatu ancaman atau krisis sehingga tidak menganggap perlu untuk mengambil tindakan berjaga-jaga atau antisipatif. Individu bisa juga memiliki belief (keyakinan/cara berpikir) akibat informasi yang salah atau ketidaktepatan dalam memaknai informasi
2)      Berusaha Logis. Individu berusaha membuat dirinya well informed sehingga ia dapat menilai dengan logis seberapa besar ancaman yang diakibatkan oleh pandemi dan berusaha untuk mengambil keputusan berdasar data-data atau informasi yang ia kumpulkan.
3)      Panik atau Cemas. Individu menilai pandemi sebagai situasi yang sangat sulit untuk dihadapinya. Coping mechanisme berkutat pada suasana emosi, belum menyasar pada problem focused coping.



Coping stress yang baik perlu menyasar pada kondisi emosi yang dirasakan dan fokus pada menyelesaikan permasalahan. Coping stress yang tepat dapat berdampak positif tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, orang di sekitar, dan masyarakat secara luas. Acuh atau menyepelekan bukan pilihan bijak karena selain dapat mengancam keselamatan diri dan lingkungan, juga dapat menyebarkan belief yang salah terkait COVID-19 sehingga dapat menurunkan kewaspadaan masyarakat.

Panik dan cemas juga memiliki dampak negatif bagi diri sendiri dan lingkungan, yaitu:
1)      Menurunkan daya tahan tubuh (imunitas) terhadap penyakit
2)      Dapat mengubah pola hidup sehat (mengurangi nafsu makan, tidak bisa tidur, makan berlebihan, konsumsi alkohol/obat-obatan, dll) yang berujung pada menurunkan daya tahan tubuh
3)      Keluarga dan orang terdekat bisa ikut cemas dan panik (terutama anak-anak dan remaja)
4)      Dapat memperburuk penyakit kronik yang dimiliki sebelumnya

Bagaimana coping mehanisme yang tepat dalam menyikapi pandemi? Klik di sini untuk membaca lebih lanjut.

Novita, M. Psi, Psi


Daftar Pustaka

APA.2020. Keeping Your Distance to Stay Safe. Diakses dari https://www.apa.org/practice/programs/dmhi/researchinformation/social-distancing

APA. 2020. Five Ways to View Coverage of the Coronavirus. Diakses dari https://www.apa.org/helpcenter/pandemics

Greenbaum, Z. 2020. Psychologist Lead Innovative Approach to Tackle Psychological Toll of COVID-19. 10 Maret 2020. Diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/psychologist-covid-19

Morin, K. C. A., 2020. Psychological Crisis Types and Causes. 23 Januari 2020. Diakses dari www.verywellmind.com/what-is-a-crisis-2795061

Robinson, B. 2020. The Psychology of Uncertainty: How to Cope with COVID-19 Anxiety. 12 Maret 2020. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2020/03/12/the-psychology-of-uncertainty-how-to-cope-with-covid-19-anxiety/#1fd0cac1394a



Dampak Psikologis dari Pandemi COVID-19


Penyebaran Corona Virus Disease-19 (COVID-19) telah dinyatakan sebagai pandemi oleh WHO. COVID-19 telah menyebar luas ke berbagai benua dan negara. Pandemi COVID-19 bisa mempengaruhi kondisi psikologis masyarakat. Pandemi dapat menjadi stressor bagi individu. Stressor merupakan hal-hal yang menyebabkan stress. Reaksi emosi yang bisa muncul akibat pandemi COVID-19 misalnya takut, cemas, bosan, frustrasi, marah, depresi, dll.



Mengapa pandemi COVID-19 bisa mempengaruhi kondisi psikologis seseorang? 

1) Munculnya pandemi COVID-19 dapat dipersepsikan sebagai suatu krisis oleh individu. Pandemi COVID-19 dapat dikategorikan sebagai situational crisis yaitu krisis yang terjadi secara tiba-tiba dan tidakterduga. Dengan adanya persepsi pandemi COVID-19 sebagai suatu krisis, individu merasakan adanya ancaman terhadap jiwa, kesehatan, ekonomi, dan aspek-aspek kehidupan lainnya.

2) Individu meraskan adanya uncertainty (ketidakpastian). Efek dari pandemi yang sedang kita hadapi menimbulkan dampak seperti kegiatan ekonomi yang tersendat, sekolah diliburkan, kegiatan pembelajaran yang belum ditentukan pelaksanaannya, tempat ibadah yang dibatasi penggunaannya (bahkan sempat ditutup), dan kegiatan sosial yang mengerahkan massa yang tidak diperbolehkan. Dengan pertanyaan utama yaitu “kapan pandemi akan berakhir?” belum dapat dijawab, maka dampak-dampak tersebut masih akan kita hadapi sampai batas waktu yang belum dapat ditentukan. Hal ini lah yang menimbulkan rasa ketidakpastian bagi individu.

3) Adanya loss of control (kehilangan kendali diri) yang dirasakan individu. Adanya ancamab, perubahan rutinitas, ketidakpastian, dan pembatasan kegiatan sosial-religi dapat menimbulkan hilangnya rasa kendali terhadap diri sendiri dan situasi yang dihadapi. Individu merasa ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk mengendalikan situasi di sekelilingnya dan dampak yang dialaminya. Sebagai contoh, individu hanya bisa melihat angka pasien positif yang semakin hari semakin naik, tanpa dapat melakukan apa-apa. Ia juga tidak tahu tindakan yang perlu diambil untuk tetap mendapatkan penghasilan di tengah tersendatnya kegiatan perekonomian.

Ilustrasi dinamika psikologis yang mungkin terjadi di masyarakat:

Pandemi COVID-19 yang terjadi saat ini dapat dipersepsikan sebagai suatu ancaman bagi individu dan masyarakat. Selain merasakan COVID-19 sebagai ancaman bagi kesehatan dan jiwa diri serta keluarga,perubahan drastis dan ketidakpastian yang terjadi dilingkungan dapat semakin membuat individu merasa terancam dengan adanya kemungkinan berkurangnya pendapatan, kehilangan pekerjaan, tidak mendapat pasokan bahan kebutuhan pokok, dan tidak mendapat peralatan kesehatan dasar. Muncul reaksi emosi seperti khawatir, takut, dan cemas. Reaksi emosi yang intens dapat membuat individu mengalami loss of control (tidak mampu mengendalikan diri dan situasi). Individu dapat mengambil tindakan ekstrim untuk mengembalikan rasa aman dan kontrol dalam dirinya seperti panic buying. Atau dapat mengalami perasaan helplessnes (tidak berdaya).

Tetapi tidak semua orang akan bereaksi sama. Setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam menganggapi stressor. Cara individu dalam menghadapi stressor disebut dengan coping mechanisme. Beberapa contoh perbedaan dalam menghadapi pandemi COVID-19 sebagai suatu stimulus:
1)      Acuh atau Menyepelekan. Individu tidak mempersepsi pandemi sebagai suatu ancaman atau krisis sehingga tidak menganggap perlu untuk mengambil tindakan berjaga-jaga atau antisipatif. Individu bisa juga memiliki belief (keyakinan/cara berpikir) akibat informasi yang salah atau ketidaktepatan dalam memaknai informasi
2)      Berusaha Logis. Individu berusaha membuat dirinya well informed sehingga ia dapat menilai dengan logis seberapa besar ancaman yang diakibatkan oleh pandemi dan berusaha untuk mengambil keputusan berdasar data-data atau informasi yang ia kumpulkan.
3)      Panik atau Cemas. Individu menilai pandemi sebagai situasi yang sangat sulit untuk dihadapinya. Coping mechanisme berkutat pada suasana emosi, belum menyasar pada problem focused coping.



Coping stress yang baik perlu menyasar pada kondisi emosi yang dirasakan dan fokus pada menyelesaikan permasalahan. Coping stress yang tepat dapat berdampak positif tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi keluarga, orang di sekitar, dan masyarakat secara luas. Acuh atau menyepelekan bukan pilihan bijak karena selain dapat mengancam keselamatan diri dan lingkungan, juga dapat menyebarkan belief yang salah terkait COVID-19 sehingga dapat menurunkan kewaspadaan masyarakat.

Panik dan cemas juga memiliki dampak negatif bagi diri sendiri dan lingkungan, yaitu:
1)      Menurunkan daya tahan tubuh (imunitas) terhadap penyakit
2)      Dapat mengubah pola hidup sehat (mengurangi nafsu makan, tidak bisa tidur, makan berlebihan, konsumsi alkohol/obat-obatan, dll) yang berujung pada menurunkan daya tahan tubuh
3)      Keluarga dan orang terdekat bisa ikut cemas dan panik (terutama anak-anak dan remaja)
4)      Dapat memperburuk penyakit kronik yang dimiliki sebelumnya

Bagaimana coping mehanisme yang tepat dalam menyikapi pandemi? Klik di sini untuk membaca lebih lanjut.

Novita, M. Psi, Psi


Daftar Pustaka

APA.2020. Keeping Your Distance to Stay Safe. Diakses dari https://www.apa.org/practice/programs/dmhi/researchinformation/social-distancing

APA. 2020. Five Ways to View Coverage of the Coronavirus. Diakses dari https://www.apa.org/helpcenter/pandemics

Greenbaum, Z. 2020. Psychologist Lead Innovative Approach to Tackle Psychological Toll of COVID-19. 10 Maret 2020. Diakses dari https://www.apa.org/news/apa/2020/03/psychologist-covid-19

Morin, K. C. A., 2020. Psychological Crisis Types and Causes. 23 Januari 2020. Diakses dari www.verywellmind.com/what-is-a-crisis-2795061

Robinson, B. 2020. The Psychology of Uncertainty: How to Cope with COVID-19 Anxiety. 12 Maret 2020. Diakses dari https://www.forbes.com/sites/bryanrobinson/2020/03/12/the-psychology-of-uncertainty-how-to-cope-with-covid-19-anxiety/#1fd0cac1394a



Instagram