SOCIAL MEDIA

Membentuk Pendidikan Usia Dini Berbasis Komunitas: Langkah dan Tips

29/10/19


Kegiatan bermain seringkali di-underestimate. Ketika bermain, anak tampak tidak produktif. Anak terlihat “hanya” bernyanyi, lari-lari, kotor-kotoran, atau memberantakkan sekitarnya. Secara umum, anak tampak tidak mengalami adanya pertambahan pengetahuan atau keterampilan. Pandangan ini bertolak belakang dengan pernyataan dari Albert Einstein yaitu: play is the highest form of research(bermain adalah bentuk kegiatan meneliti yang paling tinggi).

Pernyataan Eisntein tersebut benar adanya. Bermain adalah salah satu kegiatan yang alamiah bagi anak-anak. Mereka dapat mengembangkan berbagai keterampilan lewat kegiatan bermain yang di kemudian hari mendukung perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Dengan besarnya manfaat yang didapat anak lewat kegiatan bermain, sudah selaiknya orang tua memberikan kesempatan anak mengeksplore dirinya melalui kegiatan bermain baik terstruktur maupun tidak terstruktur.

Fun Cooking

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, kesadaran akan pentingnya kegiatan bermain untuk anak semakin meningkat kian hari. Banyak orang tua yang kemudian merancang kegiatan bermain untuk menstimulasi anak dari usia dini. Ada yang melakukannya secara mandiri, bersama-sama dalam suatu komunitas, ataupun mengikutkan ke dalam kelas-kelas stimulasi. Sebagai contoh adalah Rumah Dandelion dan Institut Ibu Profesional.

Sebagian orang tua mungkin mengalami kesulitan untuk memulai sendiri di rumah atau mencari komunitas yang bisa menaungi niat memberikan stimulasi dini. Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah bersama-sama lingkungan sekitar atau komunitas yang sudah diikuti untuk menyelenggarakan aktivitas-aktivitas stimulasi untuk anak. Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Rumah Bermain Gemintang dan Tadika An-Nur dalam membentuk kegiatan pendidikan untuk anak usia dini yang berbasis komunitas. Lalu....bagaimana memulainya?

1.       Mengajak orang tua lain yang memiliki keinginan yang sama
Ungkapkan keinginan yang sudah dimiliki untuk membuat kegiatan stimulasi atau edukasi kepada orang-orang yang dekat secara wilayah dengan Anda. Misalnya di lingkungan rumah atau komunitas yang satu area (kecamatan, kota, atau kabupaten). Kesamaan wilayah akan memudahkan akses dalam berkoordinasi dan memilih tempat kegiatan. Jika Anda memiliki keinginan tetapi tidak diungkapkan maka pihak lain yang memiliki keinginan serupa tidak akan mengetahuinya. Menemukan teman yang memiliki pengalaman mengajar merupakan suatu kelebihan, akan tetapi tidak perlu terpatok pada hal tersebut. Semua bisa melakukan jika memiliki keinginan untuk belajar, lagipula sekarang sudah banyak media untuk belajar.

2.       Menentukan tujuan dan konsep
Tujuan utamanya kurang lebih memberikan kegiatan yang edukatif dan bermanfaat bagi anak-anak. Tetapi tujuan tersebut bisa berubah atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jalannya diskusi dengan teman-teman yang lain. Konsep kegiatan bisa seperti Rumah Bermain Gemintang yaitu menjadi mitra orang tua dalam membersamai anak bermain. RBG menyelenggarakan kegiatan stimulasi dan berbagi ide pada orang tua mengenai kegiatan bermain yang bisa dilakukan dalam jangka waktu satu minggu setelahnya. Sedangan Tadika An-Nur memutuskan menjadi wadah atau fasilitator dalam memberikan kegiatan stimulasi.

Membuat Angin Tornado

3.       Merancang rencana kegiatan
Rencana kegiatan akan lebih baik dirancang mirip seperti kurikulum, akan tetapi jika Anda dan komunitas tidak ada yang memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman dalam membuatnya maka dapat direncanakan secara sederhana. Poin-poin penting yang perlu dicakup dalam membuat rencana kegiatan adalah
  • Durasi (lamanya kegiatan berlangsung)
  •  Tujuan kegiatan (misalnya menstimulasi motorik halus, menstimulasi motorik kasar, menambah kosakata, menambah pengetahuan, dll)
  •  Cara melakukan kegiatan (misalnya bernyanyi, mewarnai, senam, menari, menyortir benda, dll)
  •  Alat yang dibutuhkan


Dapat juga ditambahkan indikator keberhasilan jika dalam rencana jangka panjang akan dilakukan evaluasi terhadap peserta yang ikut. Contoh rencana kegiatan dapat dilihat dan diunduh di sini, seperti yang dibuat oleh Tadika An-Nur.

Bagaimana jika diantara kami sama sekali tidak ada yang punya pengalaman merancang dan mengajar? Saat ini akses media dan informasi sudah sangat pesat, kita bisa belajar dan mencari ide dengan mudah. Berikut rekomendasi beberapa laman dan media sosial yang bisa menjadi referensi:



4.       Sounding ke kelompok yang lebih besar
Setelah memiliki konsep dan rencana mengenai kegiatan yang akan diselenggarakan, Anda dapat sounding atau mengungkapkan ke kelompok yang lebih besar. Tujuannya adalah mengajak lebih banyak anak dan orang tua untuk ikut dalam kegiatan. Tentukan batasan besar atau luasnya kelompok yang akan diajak. Hal tersebut tentu berdasar taksiran kemampuan Anda dan komunitas Anda dalam mengakomodasi semua peserta yang ikut.

5.       Just do it!
Sangat wajar jika Anda masih ragu, misalnya takut tidak direspon positif, tidak menemukan teman, atau belum punya pengalaman. Tetapi percayalah, jikasuatu hal diniatkan untuk sesuatu yang baik maka akan mendapat resonansi positif juga dari sekitar. Mantapkan niat Anda, take a deep breath, and just do it!

Novita

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Instagram