SOCIAL MEDIA

Membentuk Pendidikan Usia Dini Berbasis Komunitas: Tadika An-Nur

28/10/19


Pada artikel sebelumnya mengenai pendidikan anak usia dini berbasis komunitas, telah diuraikan mengenai KelasBermain Gemintang (RBG) yang dikelola dengan cukup profesional. Kali ini Kariry berkesempatan untuk mengulas wadah sejenis yang juga berbasis komunitas yaitu Tadika An-Nur. Berikut petikan wawancara dengan Novita salah satu pengelola dan pengajar Tadika An-Nur (yang juga merupakan founder Kariry).

***


Q: Bisa diceritakan awal berdiri dan motivasi dari lahirnya Tadika An-Nur?

A: Awal mula lahirnya Tadika An-Nur sebenarnya sederhana, dari perbincangan ringan ibu-ibu yang tinggal di cluster kami. Cluster kami bisa dibilang masih baru, sehingga belum ramai dengan kegiatan kemasyarakatan. Untuk kegiatan pendidikan anak sendiri, pada waktu itu sudah ada belajar mengaji. Akan tetapi diadakan pada malam hari selepas waktu Maghrib hingga Isya, guna memfasilitasi anak yang sudah sekolah dasar (SD) yang memiliki jadwal sekolah sampai sore hari. Sebagian besar warga cluster memang keluarga muda, sehingga usia anak- anak di sini pun kebanyakan di bawah 10 tahun. Sebagian orang tua dari anak-anak yang usianya masih kecil, tidak bisa mengikuti jika mengaji di jam tersebut. Dari latar belakang tersebut, kami kemudian ingin membuat kegiatan mengaji atau TPQ untuk anak-anak pra-sekolah. Konsep awalnya, TPQ diselingi dengan kegiatan edukatif. Karena kami memahami pentingnya kegiatan edukatif di masa-masa yang termasuk golden age bagi tumbuh kembang anak ke depannya. Dari perbincangan tersebut, maka kami mulai mencari warga yang bersedia mengajar.

Senam Angin dalam Tema "Mengenal Angin Tornado"

Q: Artinya ruang lingkup dari Tadika terbatas untuk lingkungan cluster saja?

A: Betul. Dari awal terbentuknya yaitu sekitar Agustus 2018 hingga sekarang berjalan satu tahun lebih, kami memang membatasi kegiatan Tadika untuk anak-anak di cluster kami saja. Konsep Tadika memang dari, oleh, dan untuk warga cluster.

Q: Apa tidak ada anggapan bahwa Tadika menjadi tertutup?

A: Sebenarnya tidak tertutup ya. Begini, Tadika sifatnya informal dan tidak mengikat. Artinya kami lakukan ketika kami bisa, karena tiap individu punya prioritas masing-masing. Oleh karena itu, kami selaku sumber daya manusia yang mengelola aktivitas belajar Tadika, belum berani untuk menerima siswa atau peserta dari luar cluster karena kami sadar bahwa kapasitas kami belum sampai pada tahap tersebut. Daripada dipaksakan tapi tidak optimal, maka kami maksimalkan terlebih dahulu yang sudah berhasil berjalan. Jadi kami memposisikan diri sebagai fasilitator untuk anak-anak di sini, di mana kami memfasilitasi mereka dengan kegiatan edukatif.

Belajar Sholat

Q: Bisa diceritakan perjalanan Tadika hingga sampai pada saat ini?

A: Perjalanan Tadika bisa dikatakan learning by doing. Bermodal niat dan "jalani dulu". Bahkan konsep kegiatannya berubah dari awal diselenggarakan. Semula Tadika kami adakan lima hari seminggu dari Senin-Jumat. Kegiatan utamanya adalah mengaji atau belajar membaca iqro’. Diselingi dengan kegiatan lain seperti mewarnai, story telling, dan membuat hasta karya. Di luar dugaan kami, ternyata orang tua yang lebih antusias kebanyakan yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun sehingga komposisi siswa nya lebih banyak yang berusia 3-5 tahun daripada yang 5-7 tahun. Tiap usia anak tentu memiliki karakteristik yang khas, di mana pada usia 3-5 tahun daya konsentrasi dan minat terhadap suatu kegiatan lebih pendek. Anak-anak pada rentang usia ini pun lebih banyak bergerak dan tidak dapat duduk dalam waktu yang lama.

Fun Cooking "Membuat Bola-bola Coklat"

Merespon kondisi tersebut maka kami pun merubah isi kegiatan agar bisa merangkul semua kelompok usia. Meskipun pada teorinya setiap kelompok usia memiliki kebutuhan yang berbeda, akan tetapi dengan kemampuan kami yang ada saat ini memang tidak memungkinkan untuk memisah kegiatan berdasar usia. Oleh karena itu, kegiatan yang tadinya lima kali seminggu kami ubah menjadi sekali seminggu dengan konsep playdate. Kegiatan kami laksanakan sekitar satu jam, dari pukul 16.30-17.30 WIB. Anak-anak bisa datang sendiri maupun ditemani oleh orang tuanya. Saat ini ada sekitar 16-18 siswa yang datang per pertemuannya. Ada yang datang sendiri, ada pula yang datang didampingi orang tua.

Q: Apa saja kegiatan playdate yang diselenggarakan oleh Tadika? Apa ada kurikulum khusus?

A: Untuk kurikulum pernah kami buat pada saat kegiatannya belum berkonsep playdate, tapi setelah itu belum kami buat lagi. Saat ini kami lebih ke ide-ide spontan yang muncul pada minggu tersebut. Meski tidak kami buat sebuah kurikulum secara sistematis, tapi kami berusaha semaksimal mungkin selalu memasukkan stimulasi-stimulasi pada ranah-ranah perkembangan yang kami anggap penting pada setiap pertemuan. Antara lain bahasa, kognitif, religiusitas, motorik halus, motorik kasar, dan life-skill.



Sebagai contoh pada saat kegiatan mengenal sayur wortel kami awali dengan berdoa dan membaca beberapa surat pendek Al-Qur’an kemudian senam kelinci. Pada saat senam kelinci tersebut anak menggerakkan seluruh badan yang artinya menstimulasi keterampilan motorik kasarnya. Dalam lagu yang mengiringi senam pun diselipkan kosa kata seperti “telinga panjang, bulu putih, melompat, telinga bergerak”. Bagi kelompok usia yang masih kecil, penambahan kosa kata tersebut dapat lebih memperkaya kemampuan berbahasa mereka. Ranah kognitif kami stimulasi dengan beberapa pengetahuan mengenai wortel itu sendiri misalnya eksperimen mencampurkan warna dan mencabut wortel. Di sini kami memberitahukan pada anak bahwa wortel tumbuh ke dalam tanah dan dipanen dengan dicabut. Kegiatan memarut wortel bisa dikategorikan sebagai stimulasi motorik halus sekaligus life-skill.

Menyelamatkan Hewan dari Kebekuan dalam Tema "Mengenal Ice Age"

Q: Apakah tidak kesulitan untuk mengajar tanpa kurikulum? Dan apakah pernah kehabisan ide?

A: Letak kesulitannya memang mencari ide tema dan kegiatan. Kalau dibilang kehabisan ide, sepertinya belum pernah. Lebih ke bingung menentukan. Dengan era teknologi dan media sosial yang sudah sangat berkembang saat ini, materi dan ide mengajar sudah sangat mudah ditemukan. Bertebaran di mana-mana. Jika mengajarnya setiap hari, mungkin akan kelabakan tanpa adanya kurikulum. Tapi sejauh ini, karena pertemuannya seminggu sekali maka kami punya waktu 5-6 hari untuk mempersiapkan. Jadi lebih santai dan enjoy.

Meskipun demikian, saya akui memang akan lebih baik lagi jika kegiatan belajar mengajar beradasarkan suatu kurikulum. Dengan adanya kurikulum pengajaran antara minggu satu ke minggu berikutnya ada kesinambungan. Kalau dalam istilah psikologi pendidikan, ada sequence (alur). Sequence ini akan berpengaruh pada penerimaan peserta didik terhadap suatu materi. Mungkin nanti ketika kami sudah bisa memprioritaskan waktu untuk menyusun kurikulum, maka kami akan berusaha untuk membuatnya.

"Ice Age"

Q: Apakah kegiatan Tadika termasuk profitable?

A: Kalau secara materiil, tidak. Kami mengenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 20.000,00 pada saat pertama kali masuk dan infaq sebesar Rp 2.000,00 per pertemuan. Itu untuk mengganti media belajar yang dipakai anak bermain atau snack ringan yang diberikan sebagai reward untuk anak-anak. Kalau untuk pengajarnya sendiri kami free karena memang tidak ada biaya transportasi atau apapun. Kami pun melakukan secara suka rela.

Q: Apakah cukup untuk membiayai kegiatan Tadika selama ini?

A: Sejauh ini masih cukup. Bahkan kas kami masih ada saldo, artinya kondisinya tidak defisit kalau ditilik dari kacamata keuangan. Mungkin karena kegiatannya dilakukan di lingkungan sendiri dan kami sebisa mungkin memanfaatkan barang-barang yang sudah ada di rumah (tidak perlu membeli). Ketika ada alat yang diperlukan pun, kami meminta anak-anak membawa sendiri dari rumah. Untuk kegiatan outing (meski baru satu kali kami selenggarakan), maka kami tarik lagi biaya sesuai yang dibutuhkan per anak. Untuk keperluan lain seperti seragam, kami dibantu oleh RT.

Q: Apa harapan untuk Tadika ke depannya?

A: Pertama, kami harapkan Tadika bisa konsisten. Meski kegiatannya masih sederhana, yang penting konsistensinya terjaga. Sejauh ini kami sangat senang karena Tadika direspon positif oleh para orang tua dan siswa. Kami berharap Tadika benar-benar mendatangkan manfaat untuk semua yang ikut. Kedua, semoga Tadika bisa dikelola lebih profesional lagi. Bukan dalam artian dilembagakan secara formal, tetapi kami bisa lebih tertata dan sistematis dalam menjalankan kegiatan.

***

Ulasan mengenai Tadika An-Nur di atas dapat menunjukkan bentuk lain dari pendidikan usia dini berbasis komunitas. Pengelolaan Tadika An-Nur menunjukkan bahwa tidak harus mengeluarkan dana yang banyak untuk memulai kegiatan pendidikan anak usia dini berbasis komunitas. Kegiatan dapat dirancang secara sederhana menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Bagi yang ingin membentuk pendidikan usia dini berbasis komunitas dapat membaca lebih lanjut langkah dan saran dalam membentuk pendidikan usia dini berbasis komunitas di sini.

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Instagram