SOCIAL MEDIA

Membentuk Pendidikan Usia Dini Berbasis Komunitas: Rumah Bermain Gemintang

28/10/19


Kesadaran akan pentingnya kegiatan stimulasi dan edukasi pada usia dini semakin menunjukkan trend yang positif di kalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin bertambahnya kegiatan yang menjadi wadah bagi stimulasi anak usia dini, baik yang bersifat formal maupun informal. Kariry berkesempatan untuk berdialog dengan founder dari salah satu kelas bermain di daerah Bekasi yaitu Rumah Bermain Gemintang (untuk selanjutnya kita singkat dengan RBG). Berikut petikan wawancara dengan Devita Septiani Nursalim yang merupakan psikolog klinis dan sekarang aktif sebagai dosen.

***

Q: Bisa diceritakan awal berdiri dan motivasi dari lahirnya RBG?

A: Gagasan membentuk RBG itu mulai muncul dari sekitar April 2018. Gagasan tersebut berasal dari kami berempat yang kemudian menjadi founder dari RBG. Kami berempat memiliki latar belakang yang berbeda. Saya yang psikolog, ada yang berpengalaman mengajar TK, ada yang notaris, dan satu lagi berlatar belakang komunikasi tetapi memiliki ketertarikan terhadap pendidikan anak sehingga sekarang sedang mengambil D1 Montessori. Kami bisa bertemu karena berada dalam satu komunitas yang sama, semacam birth club (kami tergabung dalam WhatsApp group yang bertemakan gentle birth).

Karena kami bertemu dalam birth club ini, maka usia anak-anak kami pun tidak terpaut jauh. Bisa dibilang sepantaran (peer age). Ketika anak-anak kami sudah menginjak usia setahun lebih, kami mulai tertarik mencari kegiatan-kegiatan stimulasi seperti yang dilakukan oleh Rumah Dandelion. Sayangnya sulit sekali menemukan kegiatan seperti itu di area kami. Bertolak dari hal tersebut, kami kemudian terdorong untuk membuat kegiatan serupa dan kami sendiri yang running. Setelah kami diskusikan berempat selama sebulan, Mei 2018 kami siap running class. Kami juga sounding ke orang tua lain yang berada di birth club. Ternyata ada beberapa yang tertarik, sehingga jumlah siswa pada saat kami memulai adalah 10 orang yang berasal dari birth club.

Sumber: @rb.gemintang


Q: Apa konsep dari RBG itu sendiri?

A: Kami tidak menyebut RBG sebagai sekolah, kami mengonsep ini sebagai suatu kelas stimulasi. Dengan frekuensi pertemuan yang satu kali seminggu, dampak yang bisa diberikan RBG belum bisa sebesar sekolah yang jumlah pertemuannya lebih banyak dan panjang. Kami memposisikan RBG sebagai mitra orang tua. Dalam sharing session dengan orang tua, kami bagikan ide-ide bermain yang dapat dilakukan di rumah mereka sendiri. Orang tua sebagai fasililator anak selama bermain seminggu ke depan di rumah. Kami juga mengadakan kontrak belajar, bahwa kegiatan yang dilakukan di RBG akan semakin optimal jika orang tua juga mengulang-ulang kembali di rumah dengan anak-anak. Jadi kami tekankan pentingnya peran orang tua.

Parenting Session
Q: Bagaimana gambaran kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh RBG? Apakah RBG membuat kurikulum sendiri atau mengacu pada panduan lain?

A: Kegiatan RBG dilaksanakan satu minggu sekali dengan durasi sekitar dua jam, yaitu pukul 09.00-11.00 WIB. Untuk tempat dilangsungkannya kegiatan, kami dipinjamkan satu rumah oleh keluarga dari salah satu founder. Panduan kegiatan, kami buat sendiri. Kami mengumpulkan berbagai teori dari beberapa buku dan sumber seperti KPSP, Rumah Dandelion, buku psikologi perkembangan, dan sebagainya. Dari teori-teori yang kami kumpulkan tersebut, kami breakdown lagi ke dalam indikator tumbuh kembang per kelompok usia atau kelas. Di RBG ada tiga kelas yang kami bagi berdasar kelompok usia yaitu 18-24 bulan merupakan Kelas Bintang Kecil, 24-36 bulan merupakan kelas Kelas Bintang Besar, dan 36-48 bulan Kelas Bintang Kejora. Indikator-indikator berdasarkan kelompok usia ini pula yang dijadikan laporan perkembangan atau report yang diberikan kepada orang tua setiap satu term. Satu term di RBG adalah selama 3 bulan.
Sumber: @rb.gemintang
Kegiatan-kegiatan RBG tiap minggu kami ambil beradasarkan dari kumpulan indikator. Indikator-indikator tersebut mewakili empat aspek besar yaitu kognitif, motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan sosial kemandirian. Sehingga dalam satu kali pertemuan, kami selalu libatkan lima aspek ini ke dalam kegiatan bermain. Dalam running kegiatan, kami sebisa mungkin tidak meninggalkan fitrah anak-anak. Sebagai contoh dari fitrah anak-anak yaitu tidak suka duduk di satu tempat dan lebih senang bersama orang tua. Oleh karena itu, kami gunakan konsep mobile selama bermain. Kami tidak selalu dalam satu ruangan, tetapi tiap satu circle time berganti ruangan. Misalnya pembukaan di garasi kemudian pindah ke teras untuk kegiatan berikutnya. Kami juga merancang kegiatan bermain yang dilakukan bersama orang tua, bukan anak dilepas sendiri. Karena kembali pada fitrah anak yang sudah saya sebutkan tadi.

Q: Kalau boleh tahu, apa bentuk lembaga dari RBG?

A: Kalau untuk jenis lembaganya sendiri, saat ini RBG masih infromal (belum berbadan hukum). Pada awal berdiri, kami berempat selaku founder iuran untuk operasional dan membeli media bermain. Saat itu siswa masih terbatas dari anak-anak anggota gentle birth club. Berawal dari kekosongan kelas Bintang Kecil (yang sudah beranjak usianya dan masuk kelas Bintang Besar), maka kami memutuskan membuka untuk umum. Saat ini ada 10 siswa Kelas Bintang Kecil dan 10 Kelas Bintang Kejora. Kemudian ada dua pengajar dan satu orang yang mengurusi opersional. Kami mengenakan biaya 600-700an ribu rupiah untuk yang mendaftar satu term (tiga bulan). Meskipun kami mengenakan biaya, tetapi tidak dapat dikatakan kami mendapatkan profit (laba) ya. Biaya pendaftaran tersebut kembali lagi ke anak-anak karena dipergunakan untuk mendanai kegiatan bermain dan transport pengajar.

Q: Apa perkembangan dari RBG setelah satu tahun lebih berdiri?

A: Kami tidak mengira peminat RBG cukup banyak. Dari bertambahnya jumlah peminat ini, kami juga mengadakan pengembangan dari sisi sistem dan pengajaran. Saat awal masuk kami adakan skrining terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk mengetahui kebutuhan masing-masing siswa. Dari skrining ini kami mendapati bahwa ada tiga siswa kami saat ini yang mengalami speech delay. Berdasar hasil tersebut maka kami bisa memberikan rujukan bahwa siswa sebaiknya diterapi, tetapi di tempat lain karena kami sendiri belum memiliki ahli untuk melakukan terapi. Kami tekankan bahwa terapi adalah nomer satu atau utama, sedangkan kegiatan RBG adalah penunjang. Hasil skrining juga dapat membantu kami untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Melatih Ketangkasan

Q: Apa harapan untuk RBG ke depannya?

A: Harapannya RBG bisa menjadi lembaga yang lebih profesional lagi. Kami ingin menjadi sekolah formal yang berbadan hukum dan memiliki surat ijin. Sehingga kami benar—benar bisa menjadi salah satu referensi bagi orang tua yang mencari kegiatan edukatif bagi anak. Meski demikian, kami ingin tetap mempertahankan konsep dasar kami, yaitu stimulasi sesuai usia anak.

Saya sendiri juga berharap setelah kami berempat bisa berkumpul lagi (karena saat ini ada yang sekolah lagi, di luar kota, dan ada juga yang akan melahirkan), kami bisa lebih berkonsentrasi penuh terhadap pengembangan RBG. Kami melihat peluang dan potensi RBG bisa berkembang lebih besar dan profesional lagi.

Harapan lain yaitu kami ingin mengembangkan expertise masing-masing. Sehingga kami bisa lebih mendalami keterampilan yang memang diperlukan dalam mengelola dan mengajar RBG. Dengan keterampilan yang lebih, kami ingin RBG bisa semakin terasa manfaatnya, termasuk untuk siswa-siswa inklusi.

***

Perjalanan RBG sangat inspiratif, kita bisa mengambil pelajaran dari pengelolaan dan pelaksanaan RBG yang cukup mendetail. Di artikel selanjutnya akan kami ulas kegiatan edukasi berbasis komunitas yang lain dan bisa juga membaca artikel berikut ini untuk mengetahui langkah beserta tips yang bisa diikuti oleh bagi yang ingin membuat kegiatan serupa.




Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Instagram