SOCIAL MEDIA


Kegiatan bermain seringkali di-underestimate. Ketika bermain, anak tampak tidak produktif. Anak terlihat “hanya” bernyanyi, lari-lari, kotor-kotoran, atau memberantakkan sekitarnya. Secara umum, anak tampak tidak mengalami adanya pertambahan pengetahuan atau keterampilan. Pandangan ini bertolak belakang dengan pernyataan dari Albert Einstein yaitu: play is the highest form of research(bermain adalah bentuk kegiatan meneliti yang paling tinggi).

Pernyataan Eisntein tersebut benar adanya. Bermain adalah salah satu kegiatan yang alamiah bagi anak-anak. Mereka dapat mengembangkan berbagai keterampilan lewat kegiatan bermain yang di kemudian hari mendukung perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Dengan besarnya manfaat yang didapat anak lewat kegiatan bermain, sudah selaiknya orang tua memberikan kesempatan anak mengeksplore dirinya melalui kegiatan bermain baik terstruktur maupun tidak terstruktur.

Fun Cooking

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, kesadaran akan pentingnya kegiatan bermain untuk anak semakin meningkat kian hari. Banyak orang tua yang kemudian merancang kegiatan bermain untuk menstimulasi anak dari usia dini. Ada yang melakukannya secara mandiri, bersama-sama dalam suatu komunitas, ataupun mengikutkan ke dalam kelas-kelas stimulasi. Sebagai contoh adalah Rumah Dandelion dan Institut Ibu Profesional.

Sebagian orang tua mungkin mengalami kesulitan untuk memulai sendiri di rumah atau mencari komunitas yang bisa menaungi niat memberikan stimulasi dini. Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah bersama-sama lingkungan sekitar atau komunitas yang sudah diikuti untuk menyelenggarakan aktivitas-aktivitas stimulasi untuk anak. Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Rumah Bermain Gemintang dan Tadika An-Nur dalam membentuk kegiatan pendidikan untuk anak usia dini yang berbasis komunitas. Lalu....bagaimana memulainya?

1.       Mengajak orang tua lain yang memiliki keinginan yang sama
Ungkapkan keinginan yang sudah dimiliki untuk membuat kegiatan stimulasi atau edukasi kepada orang-orang yang dekat secara wilayah dengan Anda. Misalnya di lingkungan rumah atau komunitas yang satu area (kecamatan, kota, atau kabupaten). Kesamaan wilayah akan memudahkan akses dalam berkoordinasi dan memilih tempat kegiatan. Jika Anda memiliki keinginan tetapi tidak diungkapkan maka pihak lain yang memiliki keinginan serupa tidak akan mengetahuinya. Menemukan teman yang memiliki pengalaman mengajar merupakan suatu kelebihan, akan tetapi tidak perlu terpatok pada hal tersebut. Semua bisa melakukan jika memiliki keinginan untuk belajar, lagipula sekarang sudah banyak media untuk belajar.

2.       Menentukan tujuan dan konsep
Tujuan utamanya kurang lebih memberikan kegiatan yang edukatif dan bermanfaat bagi anak-anak. Tetapi tujuan tersebut bisa berubah atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jalannya diskusi dengan teman-teman yang lain. Konsep kegiatan bisa seperti Rumah Bermain Gemintang yaitu menjadi mitra orang tua dalam membersamai anak bermain. RBG menyelenggarakan kegiatan stimulasi dan berbagi ide pada orang tua mengenai kegiatan bermain yang bisa dilakukan dalam jangka waktu satu minggu setelahnya. Sedangan Tadika An-Nur memutuskan menjadi wadah atau fasilitator dalam memberikan kegiatan stimulasi.

Membuat Angin Tornado

3.       Merancang rencana kegiatan
Rencana kegiatan akan lebih baik dirancang mirip seperti kurikulum, akan tetapi jika Anda dan komunitas tidak ada yang memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman dalam membuatnya maka dapat direncanakan secara sederhana. Poin-poin penting yang perlu dicakup dalam membuat rencana kegiatan adalah
  • Durasi (lamanya kegiatan berlangsung)
  •  Tujuan kegiatan (misalnya menstimulasi motorik halus, menstimulasi motorik kasar, menambah kosakata, menambah pengetahuan, dll)
  •  Cara melakukan kegiatan (misalnya bernyanyi, mewarnai, senam, menari, menyortir benda, dll)
  •  Alat yang dibutuhkan


Dapat juga ditambahkan indikator keberhasilan jika dalam rencana jangka panjang akan dilakukan evaluasi terhadap peserta yang ikut. Contoh rencana kegiatan dapat dilihat dan diunduh di sini, seperti yang dibuat oleh Tadika An-Nur.

Bagaimana jika diantara kami sama sekali tidak ada yang punya pengalaman merancang dan mengajar? Saat ini akses media dan informasi sudah sangat pesat, kita bisa belajar dan mencari ide dengan mudah. Berikut rekomendasi beberapa laman dan media sosial yang bisa menjadi referensi:



4.       Sounding ke kelompok yang lebih besar
Setelah memiliki konsep dan rencana mengenai kegiatan yang akan diselenggarakan, Anda dapat sounding atau mengungkapkan ke kelompok yang lebih besar. Tujuannya adalah mengajak lebih banyak anak dan orang tua untuk ikut dalam kegiatan. Tentukan batasan besar atau luasnya kelompok yang akan diajak. Hal tersebut tentu berdasar taksiran kemampuan Anda dan komunitas Anda dalam mengakomodasi semua peserta yang ikut.

5.       Just do it!
Sangat wajar jika Anda masih ragu, misalnya takut tidak direspon positif, tidak menemukan teman, atau belum punya pengalaman. Tetapi percayalah, jikasuatu hal diniatkan untuk sesuatu yang baik maka akan mendapat resonansi positif juga dari sekitar. Mantapkan niat Anda, take a deep breath, and just do it!

Novita

Membentuk Pendidikan Usia Dini Berbasis Komunitas: Langkah dan Tips

29/10/19


Kegiatan bermain seringkali di-underestimate. Ketika bermain, anak tampak tidak produktif. Anak terlihat “hanya” bernyanyi, lari-lari, kotor-kotoran, atau memberantakkan sekitarnya. Secara umum, anak tampak tidak mengalami adanya pertambahan pengetahuan atau keterampilan. Pandangan ini bertolak belakang dengan pernyataan dari Albert Einstein yaitu: play is the highest form of research(bermain adalah bentuk kegiatan meneliti yang paling tinggi).

Pernyataan Eisntein tersebut benar adanya. Bermain adalah salah satu kegiatan yang alamiah bagi anak-anak. Mereka dapat mengembangkan berbagai keterampilan lewat kegiatan bermain yang di kemudian hari mendukung perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial anak. Dengan besarnya manfaat yang didapat anak lewat kegiatan bermain, sudah selaiknya orang tua memberikan kesempatan anak mengeksplore dirinya melalui kegiatan bermain baik terstruktur maupun tidak terstruktur.

Fun Cooking

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, kesadaran akan pentingnya kegiatan bermain untuk anak semakin meningkat kian hari. Banyak orang tua yang kemudian merancang kegiatan bermain untuk menstimulasi anak dari usia dini. Ada yang melakukannya secara mandiri, bersama-sama dalam suatu komunitas, ataupun mengikutkan ke dalam kelas-kelas stimulasi. Sebagai contoh adalah Rumah Dandelion dan Institut Ibu Profesional.

Sebagian orang tua mungkin mengalami kesulitan untuk memulai sendiri di rumah atau mencari komunitas yang bisa menaungi niat memberikan stimulasi dini. Salah satu solusi yang dapat ditempuh adalah bersama-sama lingkungan sekitar atau komunitas yang sudah diikuti untuk menyelenggarakan aktivitas-aktivitas stimulasi untuk anak. Sebagaimana yang sudah dilakukan oleh Rumah Bermain Gemintang dan Tadika An-Nur dalam membentuk kegiatan pendidikan untuk anak usia dini yang berbasis komunitas. Lalu....bagaimana memulainya?

1.       Mengajak orang tua lain yang memiliki keinginan yang sama
Ungkapkan keinginan yang sudah dimiliki untuk membuat kegiatan stimulasi atau edukasi kepada orang-orang yang dekat secara wilayah dengan Anda. Misalnya di lingkungan rumah atau komunitas yang satu area (kecamatan, kota, atau kabupaten). Kesamaan wilayah akan memudahkan akses dalam berkoordinasi dan memilih tempat kegiatan. Jika Anda memiliki keinginan tetapi tidak diungkapkan maka pihak lain yang memiliki keinginan serupa tidak akan mengetahuinya. Menemukan teman yang memiliki pengalaman mengajar merupakan suatu kelebihan, akan tetapi tidak perlu terpatok pada hal tersebut. Semua bisa melakukan jika memiliki keinginan untuk belajar, lagipula sekarang sudah banyak media untuk belajar.

2.       Menentukan tujuan dan konsep
Tujuan utamanya kurang lebih memberikan kegiatan yang edukatif dan bermanfaat bagi anak-anak. Tetapi tujuan tersebut bisa berubah atau dimodifikasi sesuai dengan perkembangan jalannya diskusi dengan teman-teman yang lain. Konsep kegiatan bisa seperti Rumah Bermain Gemintang yaitu menjadi mitra orang tua dalam membersamai anak bermain. RBG menyelenggarakan kegiatan stimulasi dan berbagi ide pada orang tua mengenai kegiatan bermain yang bisa dilakukan dalam jangka waktu satu minggu setelahnya. Sedangan Tadika An-Nur memutuskan menjadi wadah atau fasilitator dalam memberikan kegiatan stimulasi.

Membuat Angin Tornado

3.       Merancang rencana kegiatan
Rencana kegiatan akan lebih baik dirancang mirip seperti kurikulum, akan tetapi jika Anda dan komunitas tidak ada yang memiliki latar belakang pendidikan atau pengalaman dalam membuatnya maka dapat direncanakan secara sederhana. Poin-poin penting yang perlu dicakup dalam membuat rencana kegiatan adalah
  • Durasi (lamanya kegiatan berlangsung)
  •  Tujuan kegiatan (misalnya menstimulasi motorik halus, menstimulasi motorik kasar, menambah kosakata, menambah pengetahuan, dll)
  •  Cara melakukan kegiatan (misalnya bernyanyi, mewarnai, senam, menari, menyortir benda, dll)
  •  Alat yang dibutuhkan


Dapat juga ditambahkan indikator keberhasilan jika dalam rencana jangka panjang akan dilakukan evaluasi terhadap peserta yang ikut. Contoh rencana kegiatan dapat dilihat dan diunduh di sini, seperti yang dibuat oleh Tadika An-Nur.

Bagaimana jika diantara kami sama sekali tidak ada yang punya pengalaman merancang dan mengajar? Saat ini akses media dan informasi sudah sangat pesat, kita bisa belajar dan mencari ide dengan mudah. Berikut rekomendasi beberapa laman dan media sosial yang bisa menjadi referensi:



4.       Sounding ke kelompok yang lebih besar
Setelah memiliki konsep dan rencana mengenai kegiatan yang akan diselenggarakan, Anda dapat sounding atau mengungkapkan ke kelompok yang lebih besar. Tujuannya adalah mengajak lebih banyak anak dan orang tua untuk ikut dalam kegiatan. Tentukan batasan besar atau luasnya kelompok yang akan diajak. Hal tersebut tentu berdasar taksiran kemampuan Anda dan komunitas Anda dalam mengakomodasi semua peserta yang ikut.

5.       Just do it!
Sangat wajar jika Anda masih ragu, misalnya takut tidak direspon positif, tidak menemukan teman, atau belum punya pengalaman. Tetapi percayalah, jikasuatu hal diniatkan untuk sesuatu yang baik maka akan mendapat resonansi positif juga dari sekitar. Mantapkan niat Anda, take a deep breath, and just do it!

Novita


Pada artikel sebelumnya mengenai pendidikan anak usia dini berbasis komunitas, telah diuraikan mengenai KelasBermain Gemintang (RBG) yang dikelola dengan cukup profesional. Kali ini Kariry berkesempatan untuk mengulas wadah sejenis yang juga berbasis komunitas yaitu Tadika An-Nur. Berikut petikan wawancara dengan Novita salah satu pengelola dan pengajar Tadika An-Nur (yang juga merupakan founder Kariry).

***


Q: Bisa diceritakan awal berdiri dan motivasi dari lahirnya Tadika An-Nur?

A: Awal mula lahirnya Tadika An-Nur sebenarnya sederhana, dari perbincangan ringan ibu-ibu yang tinggal di cluster kami. Cluster kami bisa dibilang masih baru, sehingga belum ramai dengan kegiatan kemasyarakatan. Untuk kegiatan pendidikan anak sendiri, pada waktu itu sudah ada belajar mengaji. Akan tetapi diadakan pada malam hari selepas waktu Maghrib hingga Isya, guna memfasilitasi anak yang sudah sekolah dasar (SD) yang memiliki jadwal sekolah sampai sore hari. Sebagian besar warga cluster memang keluarga muda, sehingga usia anak- anak di sini pun kebanyakan di bawah 10 tahun. Sebagian orang tua dari anak-anak yang usianya masih kecil, tidak bisa mengikuti jika mengaji di jam tersebut. Dari latar belakang tersebut, kami kemudian ingin membuat kegiatan mengaji atau TPQ untuk anak-anak pra-sekolah. Konsep awalnya, TPQ diselingi dengan kegiatan edukatif. Karena kami memahami pentingnya kegiatan edukatif di masa-masa yang termasuk golden age bagi tumbuh kembang anak ke depannya. Dari perbincangan tersebut, maka kami mulai mencari warga yang bersedia mengajar.

Senam Angin dalam Tema "Mengenal Angin Tornado"

Q: Artinya ruang lingkup dari Tadika terbatas untuk lingkungan cluster saja?

A: Betul. Dari awal terbentuknya yaitu sekitar Agustus 2018 hingga sekarang berjalan satu tahun lebih, kami memang membatasi kegiatan Tadika untuk anak-anak di cluster kami saja. Konsep Tadika memang dari, oleh, dan untuk warga cluster.

Q: Apa tidak ada anggapan bahwa Tadika menjadi tertutup?

A: Sebenarnya tidak tertutup ya. Begini, Tadika sifatnya informal dan tidak mengikat. Artinya kami lakukan ketika kami bisa, karena tiap individu punya prioritas masing-masing. Oleh karena itu, kami selaku sumber daya manusia yang mengelola aktivitas belajar Tadika, belum berani untuk menerima siswa atau peserta dari luar cluster karena kami sadar bahwa kapasitas kami belum sampai pada tahap tersebut. Daripada dipaksakan tapi tidak optimal, maka kami maksimalkan terlebih dahulu yang sudah berhasil berjalan. Jadi kami memposisikan diri sebagai fasilitator untuk anak-anak di sini, di mana kami memfasilitasi mereka dengan kegiatan edukatif.

Belajar Sholat

Q: Bisa diceritakan perjalanan Tadika hingga sampai pada saat ini?

A: Perjalanan Tadika bisa dikatakan learning by doing. Bermodal niat dan "jalani dulu". Bahkan konsep kegiatannya berubah dari awal diselenggarakan. Semula Tadika kami adakan lima hari seminggu dari Senin-Jumat. Kegiatan utamanya adalah mengaji atau belajar membaca iqro’. Diselingi dengan kegiatan lain seperti mewarnai, story telling, dan membuat hasta karya. Di luar dugaan kami, ternyata orang tua yang lebih antusias kebanyakan yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun sehingga komposisi siswa nya lebih banyak yang berusia 3-5 tahun daripada yang 5-7 tahun. Tiap usia anak tentu memiliki karakteristik yang khas, di mana pada usia 3-5 tahun daya konsentrasi dan minat terhadap suatu kegiatan lebih pendek. Anak-anak pada rentang usia ini pun lebih banyak bergerak dan tidak dapat duduk dalam waktu yang lama.

Fun Cooking "Membuat Bola-bola Coklat"

Merespon kondisi tersebut maka kami pun merubah isi kegiatan agar bisa merangkul semua kelompok usia. Meskipun pada teorinya setiap kelompok usia memiliki kebutuhan yang berbeda, akan tetapi dengan kemampuan kami yang ada saat ini memang tidak memungkinkan untuk memisah kegiatan berdasar usia. Oleh karena itu, kegiatan yang tadinya lima kali seminggu kami ubah menjadi sekali seminggu dengan konsep playdate. Kegiatan kami laksanakan sekitar satu jam, dari pukul 16.30-17.30 WIB. Anak-anak bisa datang sendiri maupun ditemani oleh orang tuanya. Saat ini ada sekitar 16-18 siswa yang datang per pertemuannya. Ada yang datang sendiri, ada pula yang datang didampingi orang tua.

Q: Apa saja kegiatan playdate yang diselenggarakan oleh Tadika? Apa ada kurikulum khusus?

A: Untuk kurikulum pernah kami buat pada saat kegiatannya belum berkonsep playdate, tapi setelah itu belum kami buat lagi. Saat ini kami lebih ke ide-ide spontan yang muncul pada minggu tersebut. Meski tidak kami buat sebuah kurikulum secara sistematis, tapi kami berusaha semaksimal mungkin selalu memasukkan stimulasi-stimulasi pada ranah-ranah perkembangan yang kami anggap penting pada setiap pertemuan. Antara lain bahasa, kognitif, religiusitas, motorik halus, motorik kasar, dan life-skill.



Sebagai contoh pada saat kegiatan mengenal sayur wortel kami awali dengan berdoa dan membaca beberapa surat pendek Al-Qur’an kemudian senam kelinci. Pada saat senam kelinci tersebut anak menggerakkan seluruh badan yang artinya menstimulasi keterampilan motorik kasarnya. Dalam lagu yang mengiringi senam pun diselipkan kosa kata seperti “telinga panjang, bulu putih, melompat, telinga bergerak”. Bagi kelompok usia yang masih kecil, penambahan kosa kata tersebut dapat lebih memperkaya kemampuan berbahasa mereka. Ranah kognitif kami stimulasi dengan beberapa pengetahuan mengenai wortel itu sendiri misalnya eksperimen mencampurkan warna dan mencabut wortel. Di sini kami memberitahukan pada anak bahwa wortel tumbuh ke dalam tanah dan dipanen dengan dicabut. Kegiatan memarut wortel bisa dikategorikan sebagai stimulasi motorik halus sekaligus life-skill.

Menyelamatkan Hewan dari Kebekuan dalam Tema "Mengenal Ice Age"

Q: Apakah tidak kesulitan untuk mengajar tanpa kurikulum? Dan apakah pernah kehabisan ide?

A: Letak kesulitannya memang mencari ide tema dan kegiatan. Kalau dibilang kehabisan ide, sepertinya belum pernah. Lebih ke bingung menentukan. Dengan era teknologi dan media sosial yang sudah sangat berkembang saat ini, materi dan ide mengajar sudah sangat mudah ditemukan. Bertebaran di mana-mana. Jika mengajarnya setiap hari, mungkin akan kelabakan tanpa adanya kurikulum. Tapi sejauh ini, karena pertemuannya seminggu sekali maka kami punya waktu 5-6 hari untuk mempersiapkan. Jadi lebih santai dan enjoy.

Meskipun demikian, saya akui memang akan lebih baik lagi jika kegiatan belajar mengajar beradasarkan suatu kurikulum. Dengan adanya kurikulum pengajaran antara minggu satu ke minggu berikutnya ada kesinambungan. Kalau dalam istilah psikologi pendidikan, ada sequence (alur). Sequence ini akan berpengaruh pada penerimaan peserta didik terhadap suatu materi. Mungkin nanti ketika kami sudah bisa memprioritaskan waktu untuk menyusun kurikulum, maka kami akan berusaha untuk membuatnya.

"Ice Age"

Q: Apakah kegiatan Tadika termasuk profitable?

A: Kalau secara materiil, tidak. Kami mengenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 20.000,00 pada saat pertama kali masuk dan infaq sebesar Rp 2.000,00 per pertemuan. Itu untuk mengganti media belajar yang dipakai anak bermain atau snack ringan yang diberikan sebagai reward untuk anak-anak. Kalau untuk pengajarnya sendiri kami free karena memang tidak ada biaya transportasi atau apapun. Kami pun melakukan secara suka rela.

Q: Apakah cukup untuk membiayai kegiatan Tadika selama ini?

A: Sejauh ini masih cukup. Bahkan kas kami masih ada saldo, artinya kondisinya tidak defisit kalau ditilik dari kacamata keuangan. Mungkin karena kegiatannya dilakukan di lingkungan sendiri dan kami sebisa mungkin memanfaatkan barang-barang yang sudah ada di rumah (tidak perlu membeli). Ketika ada alat yang diperlukan pun, kami meminta anak-anak membawa sendiri dari rumah. Untuk kegiatan outing (meski baru satu kali kami selenggarakan), maka kami tarik lagi biaya sesuai yang dibutuhkan per anak. Untuk keperluan lain seperti seragam, kami dibantu oleh RT.

Q: Apa harapan untuk Tadika ke depannya?

A: Pertama, kami harapkan Tadika bisa konsisten. Meski kegiatannya masih sederhana, yang penting konsistensinya terjaga. Sejauh ini kami sangat senang karena Tadika direspon positif oleh para orang tua dan siswa. Kami berharap Tadika benar-benar mendatangkan manfaat untuk semua yang ikut. Kedua, semoga Tadika bisa dikelola lebih profesional lagi. Bukan dalam artian dilembagakan secara formal, tetapi kami bisa lebih tertata dan sistematis dalam menjalankan kegiatan.

***

Ulasan mengenai Tadika An-Nur di atas dapat menunjukkan bentuk lain dari pendidikan usia dini berbasis komunitas. Pengelolaan Tadika An-Nur menunjukkan bahwa tidak harus mengeluarkan dana yang banyak untuk memulai kegiatan pendidikan anak usia dini berbasis komunitas. Kegiatan dapat dirancang secara sederhana menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Bagi yang ingin membentuk pendidikan usia dini berbasis komunitas dapat membaca lebih lanjut langkah dan saran dalam membentuk pendidikan usia dini berbasis komunitas di sini.

Membentuk Pendidikan Usia Dini Berbasis Komunitas: Tadika An-Nur

28/10/19


Pada artikel sebelumnya mengenai pendidikan anak usia dini berbasis komunitas, telah diuraikan mengenai KelasBermain Gemintang (RBG) yang dikelola dengan cukup profesional. Kali ini Kariry berkesempatan untuk mengulas wadah sejenis yang juga berbasis komunitas yaitu Tadika An-Nur. Berikut petikan wawancara dengan Novita salah satu pengelola dan pengajar Tadika An-Nur (yang juga merupakan founder Kariry).

***


Q: Bisa diceritakan awal berdiri dan motivasi dari lahirnya Tadika An-Nur?

A: Awal mula lahirnya Tadika An-Nur sebenarnya sederhana, dari perbincangan ringan ibu-ibu yang tinggal di cluster kami. Cluster kami bisa dibilang masih baru, sehingga belum ramai dengan kegiatan kemasyarakatan. Untuk kegiatan pendidikan anak sendiri, pada waktu itu sudah ada belajar mengaji. Akan tetapi diadakan pada malam hari selepas waktu Maghrib hingga Isya, guna memfasilitasi anak yang sudah sekolah dasar (SD) yang memiliki jadwal sekolah sampai sore hari. Sebagian besar warga cluster memang keluarga muda, sehingga usia anak- anak di sini pun kebanyakan di bawah 10 tahun. Sebagian orang tua dari anak-anak yang usianya masih kecil, tidak bisa mengikuti jika mengaji di jam tersebut. Dari latar belakang tersebut, kami kemudian ingin membuat kegiatan mengaji atau TPQ untuk anak-anak pra-sekolah. Konsep awalnya, TPQ diselingi dengan kegiatan edukatif. Karena kami memahami pentingnya kegiatan edukatif di masa-masa yang termasuk golden age bagi tumbuh kembang anak ke depannya. Dari perbincangan tersebut, maka kami mulai mencari warga yang bersedia mengajar.

Senam Angin dalam Tema "Mengenal Angin Tornado"

Q: Artinya ruang lingkup dari Tadika terbatas untuk lingkungan cluster saja?

A: Betul. Dari awal terbentuknya yaitu sekitar Agustus 2018 hingga sekarang berjalan satu tahun lebih, kami memang membatasi kegiatan Tadika untuk anak-anak di cluster kami saja. Konsep Tadika memang dari, oleh, dan untuk warga cluster.

Q: Apa tidak ada anggapan bahwa Tadika menjadi tertutup?

A: Sebenarnya tidak tertutup ya. Begini, Tadika sifatnya informal dan tidak mengikat. Artinya kami lakukan ketika kami bisa, karena tiap individu punya prioritas masing-masing. Oleh karena itu, kami selaku sumber daya manusia yang mengelola aktivitas belajar Tadika, belum berani untuk menerima siswa atau peserta dari luar cluster karena kami sadar bahwa kapasitas kami belum sampai pada tahap tersebut. Daripada dipaksakan tapi tidak optimal, maka kami maksimalkan terlebih dahulu yang sudah berhasil berjalan. Jadi kami memposisikan diri sebagai fasilitator untuk anak-anak di sini, di mana kami memfasilitasi mereka dengan kegiatan edukatif.

Belajar Sholat

Q: Bisa diceritakan perjalanan Tadika hingga sampai pada saat ini?

A: Perjalanan Tadika bisa dikatakan learning by doing. Bermodal niat dan "jalani dulu". Bahkan konsep kegiatannya berubah dari awal diselenggarakan. Semula Tadika kami adakan lima hari seminggu dari Senin-Jumat. Kegiatan utamanya adalah mengaji atau belajar membaca iqro’. Diselingi dengan kegiatan lain seperti mewarnai, story telling, dan membuat hasta karya. Di luar dugaan kami, ternyata orang tua yang lebih antusias kebanyakan yang memiliki anak berusia di bawah lima tahun sehingga komposisi siswa nya lebih banyak yang berusia 3-5 tahun daripada yang 5-7 tahun. Tiap usia anak tentu memiliki karakteristik yang khas, di mana pada usia 3-5 tahun daya konsentrasi dan minat terhadap suatu kegiatan lebih pendek. Anak-anak pada rentang usia ini pun lebih banyak bergerak dan tidak dapat duduk dalam waktu yang lama.

Fun Cooking "Membuat Bola-bola Coklat"

Merespon kondisi tersebut maka kami pun merubah isi kegiatan agar bisa merangkul semua kelompok usia. Meskipun pada teorinya setiap kelompok usia memiliki kebutuhan yang berbeda, akan tetapi dengan kemampuan kami yang ada saat ini memang tidak memungkinkan untuk memisah kegiatan berdasar usia. Oleh karena itu, kegiatan yang tadinya lima kali seminggu kami ubah menjadi sekali seminggu dengan konsep playdate. Kegiatan kami laksanakan sekitar satu jam, dari pukul 16.30-17.30 WIB. Anak-anak bisa datang sendiri maupun ditemani oleh orang tuanya. Saat ini ada sekitar 16-18 siswa yang datang per pertemuannya. Ada yang datang sendiri, ada pula yang datang didampingi orang tua.

Q: Apa saja kegiatan playdate yang diselenggarakan oleh Tadika? Apa ada kurikulum khusus?

A: Untuk kurikulum pernah kami buat pada saat kegiatannya belum berkonsep playdate, tapi setelah itu belum kami buat lagi. Saat ini kami lebih ke ide-ide spontan yang muncul pada minggu tersebut. Meski tidak kami buat sebuah kurikulum secara sistematis, tapi kami berusaha semaksimal mungkin selalu memasukkan stimulasi-stimulasi pada ranah-ranah perkembangan yang kami anggap penting pada setiap pertemuan. Antara lain bahasa, kognitif, religiusitas, motorik halus, motorik kasar, dan life-skill.



Sebagai contoh pada saat kegiatan mengenal sayur wortel kami awali dengan berdoa dan membaca beberapa surat pendek Al-Qur’an kemudian senam kelinci. Pada saat senam kelinci tersebut anak menggerakkan seluruh badan yang artinya menstimulasi keterampilan motorik kasarnya. Dalam lagu yang mengiringi senam pun diselipkan kosa kata seperti “telinga panjang, bulu putih, melompat, telinga bergerak”. Bagi kelompok usia yang masih kecil, penambahan kosa kata tersebut dapat lebih memperkaya kemampuan berbahasa mereka. Ranah kognitif kami stimulasi dengan beberapa pengetahuan mengenai wortel itu sendiri misalnya eksperimen mencampurkan warna dan mencabut wortel. Di sini kami memberitahukan pada anak bahwa wortel tumbuh ke dalam tanah dan dipanen dengan dicabut. Kegiatan memarut wortel bisa dikategorikan sebagai stimulasi motorik halus sekaligus life-skill.

Menyelamatkan Hewan dari Kebekuan dalam Tema "Mengenal Ice Age"

Q: Apakah tidak kesulitan untuk mengajar tanpa kurikulum? Dan apakah pernah kehabisan ide?

A: Letak kesulitannya memang mencari ide tema dan kegiatan. Kalau dibilang kehabisan ide, sepertinya belum pernah. Lebih ke bingung menentukan. Dengan era teknologi dan media sosial yang sudah sangat berkembang saat ini, materi dan ide mengajar sudah sangat mudah ditemukan. Bertebaran di mana-mana. Jika mengajarnya setiap hari, mungkin akan kelabakan tanpa adanya kurikulum. Tapi sejauh ini, karena pertemuannya seminggu sekali maka kami punya waktu 5-6 hari untuk mempersiapkan. Jadi lebih santai dan enjoy.

Meskipun demikian, saya akui memang akan lebih baik lagi jika kegiatan belajar mengajar beradasarkan suatu kurikulum. Dengan adanya kurikulum pengajaran antara minggu satu ke minggu berikutnya ada kesinambungan. Kalau dalam istilah psikologi pendidikan, ada sequence (alur). Sequence ini akan berpengaruh pada penerimaan peserta didik terhadap suatu materi. Mungkin nanti ketika kami sudah bisa memprioritaskan waktu untuk menyusun kurikulum, maka kami akan berusaha untuk membuatnya.

"Ice Age"

Q: Apakah kegiatan Tadika termasuk profitable?

A: Kalau secara materiil, tidak. Kami mengenakan biaya pendaftaran sebesar Rp 20.000,00 pada saat pertama kali masuk dan infaq sebesar Rp 2.000,00 per pertemuan. Itu untuk mengganti media belajar yang dipakai anak bermain atau snack ringan yang diberikan sebagai reward untuk anak-anak. Kalau untuk pengajarnya sendiri kami free karena memang tidak ada biaya transportasi atau apapun. Kami pun melakukan secara suka rela.

Q: Apakah cukup untuk membiayai kegiatan Tadika selama ini?

A: Sejauh ini masih cukup. Bahkan kas kami masih ada saldo, artinya kondisinya tidak defisit kalau ditilik dari kacamata keuangan. Mungkin karena kegiatannya dilakukan di lingkungan sendiri dan kami sebisa mungkin memanfaatkan barang-barang yang sudah ada di rumah (tidak perlu membeli). Ketika ada alat yang diperlukan pun, kami meminta anak-anak membawa sendiri dari rumah. Untuk kegiatan outing (meski baru satu kali kami selenggarakan), maka kami tarik lagi biaya sesuai yang dibutuhkan per anak. Untuk keperluan lain seperti seragam, kami dibantu oleh RT.

Q: Apa harapan untuk Tadika ke depannya?

A: Pertama, kami harapkan Tadika bisa konsisten. Meski kegiatannya masih sederhana, yang penting konsistensinya terjaga. Sejauh ini kami sangat senang karena Tadika direspon positif oleh para orang tua dan siswa. Kami berharap Tadika benar-benar mendatangkan manfaat untuk semua yang ikut. Kedua, semoga Tadika bisa dikelola lebih profesional lagi. Bukan dalam artian dilembagakan secara formal, tetapi kami bisa lebih tertata dan sistematis dalam menjalankan kegiatan.

***

Ulasan mengenai Tadika An-Nur di atas dapat menunjukkan bentuk lain dari pendidikan usia dini berbasis komunitas. Pengelolaan Tadika An-Nur menunjukkan bahwa tidak harus mengeluarkan dana yang banyak untuk memulai kegiatan pendidikan anak usia dini berbasis komunitas. Kegiatan dapat dirancang secara sederhana menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Bagi yang ingin membentuk pendidikan usia dini berbasis komunitas dapat membaca lebih lanjut langkah dan saran dalam membentuk pendidikan usia dini berbasis komunitas di sini.


Kesadaran akan pentingnya kegiatan stimulasi dan edukasi pada usia dini semakin menunjukkan trend yang positif di kalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin bertambahnya kegiatan yang menjadi wadah bagi stimulasi anak usia dini, baik yang bersifat formal maupun informal. Kariry berkesempatan untuk berdialog dengan founder dari salah satu kelas bermain di daerah Bekasi yaitu Rumah Bermain Gemintang (untuk selanjutnya kita singkat dengan RBG). Berikut petikan wawancara dengan Devita Septiani Nursalim yang merupakan psikolog klinis dan sekarang aktif sebagai dosen.

***

Q: Bisa diceritakan awal berdiri dan motivasi dari lahirnya RBG?

A: Gagasan membentuk RBG itu mulai muncul dari sekitar April 2018. Gagasan tersebut berasal dari kami berempat yang kemudian menjadi founder dari RBG. Kami berempat memiliki latar belakang yang berbeda. Saya yang psikolog, ada yang berpengalaman mengajar TK, ada yang notaris, dan satu lagi berlatar belakang komunikasi tetapi memiliki ketertarikan terhadap pendidikan anak sehingga sekarang sedang mengambil D1 Montessori. Kami bisa bertemu karena berada dalam satu komunitas yang sama, semacam birth club (kami tergabung dalam WhatsApp group yang bertemakan gentle birth).

Karena kami bertemu dalam birth club ini, maka usia anak-anak kami pun tidak terpaut jauh. Bisa dibilang sepantaran (peer age). Ketika anak-anak kami sudah menginjak usia setahun lebih, kami mulai tertarik mencari kegiatan-kegiatan stimulasi seperti yang dilakukan oleh Rumah Dandelion. Sayangnya sulit sekali menemukan kegiatan seperti itu di area kami. Bertolak dari hal tersebut, kami kemudian terdorong untuk membuat kegiatan serupa dan kami sendiri yang running. Setelah kami diskusikan berempat selama sebulan, Mei 2018 kami siap running class. Kami juga sounding ke orang tua lain yang berada di birth club. Ternyata ada beberapa yang tertarik, sehingga jumlah siswa pada saat kami memulai adalah 10 orang yang berasal dari birth club.

Sumber: @rb.gemintang


Q: Apa konsep dari RBG itu sendiri?

A: Kami tidak menyebut RBG sebagai sekolah, kami mengonsep ini sebagai suatu kelas stimulasi. Dengan frekuensi pertemuan yang satu kali seminggu, dampak yang bisa diberikan RBG belum bisa sebesar sekolah yang jumlah pertemuannya lebih banyak dan panjang. Kami memposisikan RBG sebagai mitra orang tua. Dalam sharing session dengan orang tua, kami bagikan ide-ide bermain yang dapat dilakukan di rumah mereka sendiri. Orang tua sebagai fasililator anak selama bermain seminggu ke depan di rumah. Kami juga mengadakan kontrak belajar, bahwa kegiatan yang dilakukan di RBG akan semakin optimal jika orang tua juga mengulang-ulang kembali di rumah dengan anak-anak. Jadi kami tekankan pentingnya peran orang tua.

Parenting Session
Q: Bagaimana gambaran kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh RBG? Apakah RBG membuat kurikulum sendiri atau mengacu pada panduan lain?

A: Kegiatan RBG dilaksanakan satu minggu sekali dengan durasi sekitar dua jam, yaitu pukul 09.00-11.00 WIB. Untuk tempat dilangsungkannya kegiatan, kami dipinjamkan satu rumah oleh keluarga dari salah satu founder. Panduan kegiatan, kami buat sendiri. Kami mengumpulkan berbagai teori dari beberapa buku dan sumber seperti KPSP, Rumah Dandelion, buku psikologi perkembangan, dan sebagainya. Dari teori-teori yang kami kumpulkan tersebut, kami breakdown lagi ke dalam indikator tumbuh kembang per kelompok usia atau kelas. Di RBG ada tiga kelas yang kami bagi berdasar kelompok usia yaitu 18-24 bulan merupakan Kelas Bintang Kecil, 24-36 bulan merupakan kelas Kelas Bintang Besar, dan 36-48 bulan Kelas Bintang Kejora. Indikator-indikator berdasarkan kelompok usia ini pula yang dijadikan laporan perkembangan atau report yang diberikan kepada orang tua setiap satu term. Satu term di RBG adalah selama 3 bulan.
Sumber: @rb.gemintang
Kegiatan-kegiatan RBG tiap minggu kami ambil beradasarkan dari kumpulan indikator. Indikator-indikator tersebut mewakili empat aspek besar yaitu kognitif, motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan sosial kemandirian. Sehingga dalam satu kali pertemuan, kami selalu libatkan lima aspek ini ke dalam kegiatan bermain. Dalam running kegiatan, kami sebisa mungkin tidak meninggalkan fitrah anak-anak. Sebagai contoh dari fitrah anak-anak yaitu tidak suka duduk di satu tempat dan lebih senang bersama orang tua. Oleh karena itu, kami gunakan konsep mobile selama bermain. Kami tidak selalu dalam satu ruangan, tetapi tiap satu circle time berganti ruangan. Misalnya pembukaan di garasi kemudian pindah ke teras untuk kegiatan berikutnya. Kami juga merancang kegiatan bermain yang dilakukan bersama orang tua, bukan anak dilepas sendiri. Karena kembali pada fitrah anak yang sudah saya sebutkan tadi.

Q: Kalau boleh tahu, apa bentuk lembaga dari RBG?

A: Kalau untuk jenis lembaganya sendiri, saat ini RBG masih infromal (belum berbadan hukum). Pada awal berdiri, kami berempat selaku founder iuran untuk operasional dan membeli media bermain. Saat itu siswa masih terbatas dari anak-anak anggota gentle birth club. Berawal dari kekosongan kelas Bintang Kecil (yang sudah beranjak usianya dan masuk kelas Bintang Besar), maka kami memutuskan membuka untuk umum. Saat ini ada 10 siswa Kelas Bintang Kecil dan 10 Kelas Bintang Kejora. Kemudian ada dua pengajar dan satu orang yang mengurusi opersional. Kami mengenakan biaya 600-700an ribu rupiah untuk yang mendaftar satu term (tiga bulan). Meskipun kami mengenakan biaya, tetapi tidak dapat dikatakan kami mendapatkan profit (laba) ya. Biaya pendaftaran tersebut kembali lagi ke anak-anak karena dipergunakan untuk mendanai kegiatan bermain dan transport pengajar.

Q: Apa perkembangan dari RBG setelah satu tahun lebih berdiri?

A: Kami tidak mengira peminat RBG cukup banyak. Dari bertambahnya jumlah peminat ini, kami juga mengadakan pengembangan dari sisi sistem dan pengajaran. Saat awal masuk kami adakan skrining terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk mengetahui kebutuhan masing-masing siswa. Dari skrining ini kami mendapati bahwa ada tiga siswa kami saat ini yang mengalami speech delay. Berdasar hasil tersebut maka kami bisa memberikan rujukan bahwa siswa sebaiknya diterapi, tetapi di tempat lain karena kami sendiri belum memiliki ahli untuk melakukan terapi. Kami tekankan bahwa terapi adalah nomer satu atau utama, sedangkan kegiatan RBG adalah penunjang. Hasil skrining juga dapat membantu kami untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Melatih Ketangkasan

Q: Apa harapan untuk RBG ke depannya?

A: Harapannya RBG bisa menjadi lembaga yang lebih profesional lagi. Kami ingin menjadi sekolah formal yang berbadan hukum dan memiliki surat ijin. Sehingga kami benar—benar bisa menjadi salah satu referensi bagi orang tua yang mencari kegiatan edukatif bagi anak. Meski demikian, kami ingin tetap mempertahankan konsep dasar kami, yaitu stimulasi sesuai usia anak.

Saya sendiri juga berharap setelah kami berempat bisa berkumpul lagi (karena saat ini ada yang sekolah lagi, di luar kota, dan ada juga yang akan melahirkan), kami bisa lebih berkonsentrasi penuh terhadap pengembangan RBG. Kami melihat peluang dan potensi RBG bisa berkembang lebih besar dan profesional lagi.

Harapan lain yaitu kami ingin mengembangkan expertise masing-masing. Sehingga kami bisa lebih mendalami keterampilan yang memang diperlukan dalam mengelola dan mengajar RBG. Dengan keterampilan yang lebih, kami ingin RBG bisa semakin terasa manfaatnya, termasuk untuk siswa-siswa inklusi.

***

Perjalanan RBG sangat inspiratif, kita bisa mengambil pelajaran dari pengelolaan dan pelaksanaan RBG yang cukup mendetail. Di artikel selanjutnya akan kami ulas kegiatan edukasi berbasis komunitas yang lain dan bisa juga membaca artikel berikut ini untuk mengetahui langkah beserta tips yang bisa diikuti oleh bagi yang ingin membuat kegiatan serupa.




Membentuk Pendidikan Usia Dini Berbasis Komunitas: Rumah Bermain Gemintang


Kesadaran akan pentingnya kegiatan stimulasi dan edukasi pada usia dini semakin menunjukkan trend yang positif di kalangan masyarakat Indonesia. Hal tersebut dapat dilihat dari semakin bertambahnya kegiatan yang menjadi wadah bagi stimulasi anak usia dini, baik yang bersifat formal maupun informal. Kariry berkesempatan untuk berdialog dengan founder dari salah satu kelas bermain di daerah Bekasi yaitu Rumah Bermain Gemintang (untuk selanjutnya kita singkat dengan RBG). Berikut petikan wawancara dengan Devita Septiani Nursalim yang merupakan psikolog klinis dan sekarang aktif sebagai dosen.

***

Q: Bisa diceritakan awal berdiri dan motivasi dari lahirnya RBG?

A: Gagasan membentuk RBG itu mulai muncul dari sekitar April 2018. Gagasan tersebut berasal dari kami berempat yang kemudian menjadi founder dari RBG. Kami berempat memiliki latar belakang yang berbeda. Saya yang psikolog, ada yang berpengalaman mengajar TK, ada yang notaris, dan satu lagi berlatar belakang komunikasi tetapi memiliki ketertarikan terhadap pendidikan anak sehingga sekarang sedang mengambil D1 Montessori. Kami bisa bertemu karena berada dalam satu komunitas yang sama, semacam birth club (kami tergabung dalam WhatsApp group yang bertemakan gentle birth).

Karena kami bertemu dalam birth club ini, maka usia anak-anak kami pun tidak terpaut jauh. Bisa dibilang sepantaran (peer age). Ketika anak-anak kami sudah menginjak usia setahun lebih, kami mulai tertarik mencari kegiatan-kegiatan stimulasi seperti yang dilakukan oleh Rumah Dandelion. Sayangnya sulit sekali menemukan kegiatan seperti itu di area kami. Bertolak dari hal tersebut, kami kemudian terdorong untuk membuat kegiatan serupa dan kami sendiri yang running. Setelah kami diskusikan berempat selama sebulan, Mei 2018 kami siap running class. Kami juga sounding ke orang tua lain yang berada di birth club. Ternyata ada beberapa yang tertarik, sehingga jumlah siswa pada saat kami memulai adalah 10 orang yang berasal dari birth club.

Sumber: @rb.gemintang


Q: Apa konsep dari RBG itu sendiri?

A: Kami tidak menyebut RBG sebagai sekolah, kami mengonsep ini sebagai suatu kelas stimulasi. Dengan frekuensi pertemuan yang satu kali seminggu, dampak yang bisa diberikan RBG belum bisa sebesar sekolah yang jumlah pertemuannya lebih banyak dan panjang. Kami memposisikan RBG sebagai mitra orang tua. Dalam sharing session dengan orang tua, kami bagikan ide-ide bermain yang dapat dilakukan di rumah mereka sendiri. Orang tua sebagai fasililator anak selama bermain seminggu ke depan di rumah. Kami juga mengadakan kontrak belajar, bahwa kegiatan yang dilakukan di RBG akan semakin optimal jika orang tua juga mengulang-ulang kembali di rumah dengan anak-anak. Jadi kami tekankan pentingnya peran orang tua.

Parenting Session
Q: Bagaimana gambaran kegiatan-kegiatan yang dilaksanakan oleh RBG? Apakah RBG membuat kurikulum sendiri atau mengacu pada panduan lain?

A: Kegiatan RBG dilaksanakan satu minggu sekali dengan durasi sekitar dua jam, yaitu pukul 09.00-11.00 WIB. Untuk tempat dilangsungkannya kegiatan, kami dipinjamkan satu rumah oleh keluarga dari salah satu founder. Panduan kegiatan, kami buat sendiri. Kami mengumpulkan berbagai teori dari beberapa buku dan sumber seperti KPSP, Rumah Dandelion, buku psikologi perkembangan, dan sebagainya. Dari teori-teori yang kami kumpulkan tersebut, kami breakdown lagi ke dalam indikator tumbuh kembang per kelompok usia atau kelas. Di RBG ada tiga kelas yang kami bagi berdasar kelompok usia yaitu 18-24 bulan merupakan Kelas Bintang Kecil, 24-36 bulan merupakan kelas Kelas Bintang Besar, dan 36-48 bulan Kelas Bintang Kejora. Indikator-indikator berdasarkan kelompok usia ini pula yang dijadikan laporan perkembangan atau report yang diberikan kepada orang tua setiap satu term. Satu term di RBG adalah selama 3 bulan.
Sumber: @rb.gemintang
Kegiatan-kegiatan RBG tiap minggu kami ambil beradasarkan dari kumpulan indikator. Indikator-indikator tersebut mewakili empat aspek besar yaitu kognitif, motorik halus, motorik kasar, bahasa, dan sosial kemandirian. Sehingga dalam satu kali pertemuan, kami selalu libatkan lima aspek ini ke dalam kegiatan bermain. Dalam running kegiatan, kami sebisa mungkin tidak meninggalkan fitrah anak-anak. Sebagai contoh dari fitrah anak-anak yaitu tidak suka duduk di satu tempat dan lebih senang bersama orang tua. Oleh karena itu, kami gunakan konsep mobile selama bermain. Kami tidak selalu dalam satu ruangan, tetapi tiap satu circle time berganti ruangan. Misalnya pembukaan di garasi kemudian pindah ke teras untuk kegiatan berikutnya. Kami juga merancang kegiatan bermain yang dilakukan bersama orang tua, bukan anak dilepas sendiri. Karena kembali pada fitrah anak yang sudah saya sebutkan tadi.

Q: Kalau boleh tahu, apa bentuk lembaga dari RBG?

A: Kalau untuk jenis lembaganya sendiri, saat ini RBG masih infromal (belum berbadan hukum). Pada awal berdiri, kami berempat selaku founder iuran untuk operasional dan membeli media bermain. Saat itu siswa masih terbatas dari anak-anak anggota gentle birth club. Berawal dari kekosongan kelas Bintang Kecil (yang sudah beranjak usianya dan masuk kelas Bintang Besar), maka kami memutuskan membuka untuk umum. Saat ini ada 10 siswa Kelas Bintang Kecil dan 10 Kelas Bintang Kejora. Kemudian ada dua pengajar dan satu orang yang mengurusi opersional. Kami mengenakan biaya 600-700an ribu rupiah untuk yang mendaftar satu term (tiga bulan). Meskipun kami mengenakan biaya, tetapi tidak dapat dikatakan kami mendapatkan profit (laba) ya. Biaya pendaftaran tersebut kembali lagi ke anak-anak karena dipergunakan untuk mendanai kegiatan bermain dan transport pengajar.

Q: Apa perkembangan dari RBG setelah satu tahun lebih berdiri?

A: Kami tidak mengira peminat RBG cukup banyak. Dari bertambahnya jumlah peminat ini, kami juga mengadakan pengembangan dari sisi sistem dan pengajaran. Saat awal masuk kami adakan skrining terlebih dahulu. Tujuannya adalah untuk mengetahui kebutuhan masing-masing siswa. Dari skrining ini kami mendapati bahwa ada tiga siswa kami saat ini yang mengalami speech delay. Berdasar hasil tersebut maka kami bisa memberikan rujukan bahwa siswa sebaiknya diterapi, tetapi di tempat lain karena kami sendiri belum memiliki ahli untuk melakukan terapi. Kami tekankan bahwa terapi adalah nomer satu atau utama, sedangkan kegiatan RBG adalah penunjang. Hasil skrining juga dapat membantu kami untuk merancang kegiatan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.

Melatih Ketangkasan

Q: Apa harapan untuk RBG ke depannya?

A: Harapannya RBG bisa menjadi lembaga yang lebih profesional lagi. Kami ingin menjadi sekolah formal yang berbadan hukum dan memiliki surat ijin. Sehingga kami benar—benar bisa menjadi salah satu referensi bagi orang tua yang mencari kegiatan edukatif bagi anak. Meski demikian, kami ingin tetap mempertahankan konsep dasar kami, yaitu stimulasi sesuai usia anak.

Saya sendiri juga berharap setelah kami berempat bisa berkumpul lagi (karena saat ini ada yang sekolah lagi, di luar kota, dan ada juga yang akan melahirkan), kami bisa lebih berkonsentrasi penuh terhadap pengembangan RBG. Kami melihat peluang dan potensi RBG bisa berkembang lebih besar dan profesional lagi.

Harapan lain yaitu kami ingin mengembangkan expertise masing-masing. Sehingga kami bisa lebih mendalami keterampilan yang memang diperlukan dalam mengelola dan mengajar RBG. Dengan keterampilan yang lebih, kami ingin RBG bisa semakin terasa manfaatnya, termasuk untuk siswa-siswa inklusi.

***

Perjalanan RBG sangat inspiratif, kita bisa mengambil pelajaran dari pengelolaan dan pelaksanaan RBG yang cukup mendetail. Di artikel selanjutnya akan kami ulas kegiatan edukasi berbasis komunitas yang lain dan bisa juga membaca artikel berikut ini untuk mengetahui langkah beserta tips yang bisa diikuti oleh bagi yang ingin membuat kegiatan serupa.




Instagram