SOCIAL MEDIA

Mendampingi Anak Menghadapi Kabar Hoax

25/12/17


Revolusi internet dimulai sejak jaman 1980. Kemajuan dalam bidang teknologi membuat masyarakat menjadi melek informasi, dikarenakan arus informasi yang bergerak sangat cepat. Namun di sisi lain banjir informasi menjadi sarang empuk untuk tersebarnya berita yang mengandung kebohongan. Kemajuan bermedia sosial yang tidak dibarengi dengan literasi digital menyebabkan berita hoax tersebar dengan mudahnya. Sumber Tirto id menyebutkan bahwa dari 1.002 responden orang dewasa mengaku telah membagikan berita yang mereka sndiri masih meragukan kebenarannya.  Kondisi ini menggambarkan bahwa orang dewasa yang notabene dianggap memiliki pemahaman lebih masih bisa abai dengan berita hoax. Survey Common Sense Media yang dilakukan di amerika pada awal 2017 menunjukkan bahwa dari 853 responden sebanyak 31 persen meragukan perihal kebenaran berita yang mereka sebarkan.

Gambar dari sini

Hoax memiliki arti ketidakbenaran dari suatu informasi. Berita ini mengecoh dan mendoktrin para pembacanya, sehingga para pembaca akan mengikuti kemauan penulis berita hoax. Seringnya isi dari berita hoax memiliki konten-konten yang provokatif dan menyebarkan kebencian, rasa was-was, rasa saling curiga dan kekhawatiran pada masyarakat. Unggahan hoax bisa berupa narasi, maupun meme yang tamilannya mengarahkan opini pembaca untuk berpandangan negatif pada kelompok masyarakat lain.
Terkait dengan conten yang tidak sehat ini, tentu saja membuat kita sebagai orang tua merasa was-was dengan bacaan anak. Apalagi kita memahami bahwa anak adalah pembelajar yang cepat. Bagaimana nasib mereka ketika banyak dicekoki dengan berita-berita kebohongan yang memiliki maksud buruk?

Menjadikan anak steril dari dunia internet agar anak terhindar dari efek negatif adalah hal yang tidak mungkin dikarenakan anak sekarang sudah hidup dijaman yang membutuhkan koneksi dan informasi. Orang tua tidak boleh gagap teknologi, orang tua perlu tahu dan bahkan bisa jadi belajar bersama anak terkait dengan teknologi informasi. Sehingga tugas kita sebagai orang tua adalah membuat anak-anak kita memiliki imunitas terhadap berita-berita dan pengetahuan yang mengecoh mereka.

Anak-anak yang terlarut dalam berita hoax tentu akan memiliki pemahaman yang keliru. Terlebih menjadi berbahaya ketika anak hanya percaya pada bacaannya dan memiliki paham yang ekstrim karena ‘tercuci otaknya’ oleh konten-konten kebohongan yang tidak sehat. Perlu bagi kita sebagai orang tua untuk menumbuhkan sikap kritis atas informasi yang tersebar, termasuk mencoba mendeteksi berita-berita yang dianggap meragukan.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi permasalahan ini?

1.     Mendampingi anak. pendampingan yang tepat adalah dengan memperhatikan aktivitas apa saja yang dilakukan anak di media sosial. Agar pendampingan terasa menyenangkan hendaknya orang tua memabangun komunikasi yang hangat dengan anak, sehingga mereka merasa nyaman untuk bercerita tentang aktivitas berselancar mereka dan tidak merasa dimata-matai. Dengan melakukan aktivitas bersama, anda dapat membimbing sekaligus mencari informasi bersama. 

2.     Berdiskusi bersama anak. ketika menemukan berita yang diduga hoax. Dalam kegiatan berselancar bersama bukan hal mustahil ketika anak dan anda menemukan berita yang mencurigakan. Ketika menemukan berita tersebut, justru merupakan saat yang tepat untuk menelusurinya bersama anak sembari berdiskusi dan bertanya pendapat anak mengenai berita tersebut.

3.     Menanamkan nilai-nilai positif pada anak. tidak sedikit berita hoax berisi tentang ujaran kebencian pada kelompok tertentu, jika dengan mudah kita naik pitam karena berita-berita tertentu, maka kita berhasil di ‘permainkan’ oleh pihak yang menciptakan berita hoax. Tanamkan kepada anak sikap-sikap positif sebelum terlalu cepat mengambil kesimpulan atas berita yang dia peroleh, dengan mencari berita pembanding dan melakukan penelusuran kebenaran berita.

Kepandaian tidak menentukan apakah seseorang mampu untuk memahami sebuah berita merupakan hoax atau bukan, namun bagaimana anak mampu mengembangkan skill berpikir kritis akan membantu mereka menyikapi informasi di lingkungannya dengan lebih bijak.

Laelatus Syifa Sari Agustina

Tidak ada komentar :

Posting Komentar

Instagram