SOCIAL MEDIA

Saat ini metode Montessori menarik minat banyak orang tua di Indonesia. Meningkatnya ketertarikan terhadap Montessori tidak lepas dari bermunculannya komunitas yang peduli terhadap pendidikan anak usia dini dan para ibu Montessorian yang juga merupakan public figure. Apa yang menarik dari metode ini sehingga seolah menjadi trend di kalangan orang tua?

Pada dasarnya Montessori merupakan hal yang baru bagi kebanyakan orang tua, meski metode ini sudah lama masuk ke Indonesia. Montessori menawarkan perspektif yang “menyegarkan” di tengah munculnya rasa skeptis terhadap metode pengajaran yang ada di Indonesia. Kegiatan belajar yang menyenangkan dan filosofi yang digunakan sebagai pendekatan dalam mengajar adalah daya tarik utama.

Tetapi, apakah Montessori adalah metode yang lebih baik atau bahkan terbaik dari metode lainnya? Jika kita ingin menarik sebuah kesimpulan, maka kita harus melihat metode lain sebagai perbandingan. Beberapa orang tua, tanpa menilik sejarah atau filosofinya, menjadi “simpatisan” atau memilih Montessori untuk anak-anaknya. Apakah hal tersebut salah? Sebenarnya tidak juga. Setiap metode pengajaran memiliki kelebihan masing-masing. Jika anak menikmati proses belajar memakai metode tersebut maka tidak menjadi masalah.

Untuk saat ini, mari kita coba membandingkan metode Montessori dengan beberapa metode yang lahir di Eropa seperti Froebel, Reggio Emilia, dan Waldorf-Steiner. Keempat metode tersebut sebenarnya memiliki filosofi pendidikan yang hampir sama yaitu menekankan proses pembelajaran lewat bermain dan self-discovery. Lalu, apakah perbedaannya? Berikut penjelasan singkat dari keempat metode tersebut.

Froebel
Friedrich Froebel berasal dari Jerman dan beliau menyusun program yang menjadi dasar banyak kelompok bermain (KB) saat ini. Froebel menekankan bahwa pendidik pertama adalah keluarga sehingga harus ada ikatan erat antara keluarga di rumah dan sekolah.
  • Area yang dikembangkan: sosial, akademik, emosi, fisik, dan spiritual
  • Metode belajar: gerakan motorik, keterlibatan sosial, ekspresi diri, dan kreatifitas
  • Kesiapan anak: setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda sehingga setiap anak diberikan kesempatan belajar sesuai kesiapan masing-masing
  • Pandangan tentang bermain: bertujuan, harus terstruktur.
  • Peran guru: sebagai pembimbing yang menuntun ke arah pemahaman
  • Ruang kelas: dipersiapkan secara matang, termasuk alat dan bahan yang kemudian diwujudkan ke dalam Froebel Gifts (hadiah) dan Froebel Occupations (tugas).  Di dalam ruang kelas juga murid di dorong untuk melakukan kegiatan yang melibatkan gerak motorik.
  • Kritik: terlalu terstruktur dan terfokus pada gerakan motorik

Froebel Gift: Yarn (gambar dari sini)

Froebel Gift (gambar dari sini)

Contoh dari Froebel Occupation (gambar dari sini)

Overview dari Gift dan Occupation
(gambar dari sini)

Montessori
Maria Montessori mengembangkan metode ini setelah menghadiri kelas pedagogi di Roma, Italia. Berikut penjelasan singkat tentang Montessori.
  • Area yang dikembangkan: fisik, sosial emosi, bahasa, keterampilan hidup (life skill), dan kognisi
  • Metode belajar: kurikulum kosmik yang menekankan pentingnya pengetahuan dasar tentang suatu subjek pembelajaran. Pelajaran berfokus pada keterampilan hidup, sensori, dan bahasa.
  • Kesiapan anak: terdapat masa sensitif atau kritis yaitu masa terbaik bagi anak untuk mempelajari keterampilan tertentu dan tidak bisa kembali lagi ke masa tersebut jika sudah terlewati.
  • Pandangan tentang bermain: bertujuan, harus terstruktur.
  • Peran guru: mengungkap potensi terbaik anak, bukan membentuk anak. guru juga harus mendorong anak untuk mandiri.
  • Ruang kelas: kelas terdiri dari berbagai kelompok usia anak dan disiapkan agar menstimulasi indra dan proses belajar
  • Kritik: terlalu mahal, anak yang lebih kecil tidak selalu mampu mengikuti ritme anak yang lebih besar, kesulitan untuk beradaptasi ke kelas dari sekolah umum

Contoh Pembelajaran Life-Skill
suatu keterampilan atau konsep diajarkan dalam satu rentang waktu
(gambar dari sini)

Didactic Apparatus
(gambar dari sini)

Didactic Apparatus
(gambar dari sini)


Reggio Emilia
Reggio Emilia adalah warga Italia yang menyusun metode pengajaran berdasarkan saling menghormati, tanggung jawab, dan komunitas.
  • Area yang dikembangkan: kognitif, emosi, sosial (berbasis komunitas)
  • Metode belajar: eksplorasi dan menemukan. Anak menemukan makna dari topik pembelajaran  lewat proyek (tugas) jangka panjang yang melibatkan proses observasi, hipotesis, bertanya, dan klarifikasi.  Anak juga didorong untuk mengekspresikan diri dengan cara masing-masing.
  • Pandangan tentang bermain: bertujuan, harus terstruktur.
  • Peran guru: peneliti, partner kerja, pencatat perkembangan anak, dan penasihat. Guru harus mengumpulkan dokumentasi perkembangan setiap anak.
  • Ruang kelas: didesain sebagai “guru ketiga”. Aktivitas belajar disusun dalam bentuk pengalaman stimulasi untuk semua indera seperti meraba, melihat, mendengar, bergerak, berbicara, dan mendengarkan.
  • Kritik: tidak ada susunan metode yang pasti dan juga tidak ada sertifikasi guru

Ruang Kelas Berkonsep Reggio Emilia
(gambar dari sini)

Setiap Meja untuk Mempelajari Konsep atau Keterampilan yang Berbeda
(gambar dari sini)

Guru adalah peneliti, partner kerja, observer, dan penasihat
(gambar dari sini)

Belajar Lewat Berkarya
(gambar dari sini)

Belajar Lewat Berkarya
(gambar dari sini)

Waldorf-Steiner
Rudolf Steiner adalah pengajar berkebangsaan Jerman. Beliau menerapkan filosofi dan tahap perkembangan dari Jean Piaget. Salah satu prinsip dari metode ini adalah meminimalisir paparan teknologi dan televisi pada anak yang masih kecil agar dapat mendorong proses berpikir imajinatif dan memperpanjang fokus perhatian.
  • Area yang dikembangkan: kognitif, emosi, sosial, bahasa, fisik, dan keterampilan hidup (life skill)
  • Metode belajar: kepala, tangan, dan hati merupakan fokus dari kegiatan belajar. Imajinasi adalah salah satu hal yang penting dikembangkan dengan mendongeng, berfantasi, seni, drama, dan prakarya.
  • Pandangan tentang bermain: ada yang bertujuan (disusun) dan ada yang bermain bebas
  • Ruang kelas: ditata secantik mungkin dan dipenuhi dengan bahan-bahan alami yang merangsang bermain secara bebas. Pendekatan multi-disiplin juga digunakan seperti seni untuk belajar matematika. Pelajaran keterampilan hidup mencakup
  • Kritik: ketrampilan membaca diajarkan agak terlambat di usia 7-8 tahun dan para guru yang mengikuti pelatihan Wladorf-Steiner menerima materi tentang roh dan reinkarnasi yang tidak dapat relevan dengan semua orang tua.

Musik dan Berkarya Seni
(gambar dari sini)

Imajinasi Memiliki Peran Penting
(gambar dari sini)

Kegiatan Kelas Satu
(gambar dari sini)

Setiap metode masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagian orang tua memutuskan untuk memilih salah metode secara total yang diwujudkan dengan memilih sekolah dan kegiatan belajar di rumah yang menganut metode tersebut. Sebagian yang lain memiliki beberapa prinsp atau kegiatan yang relevan dengan kondisi masing-masing.

Ada beberapa faktor yang perlu untuk dipertimbangkan yaitu nilai yang dianut keluarga, kondisi, dan minat anak. Orang tua dapat memilah metode mana yang sesuai dengan tujuan keluarga dan nilai yang ingin diajarkan pada anak. di Indonesia sendiri, sekolah yang menganut keempat metode tersebut jumlahnya terbatas. Sehingga tidak dapat dijadikan pilihan secara luas. Tetapi mengenal keempat metode tersebut dapat dikatakan merupakan hal positif bagi orang tua yang memilih homeschooling untuk anaknya, karena dapat memperluas wawasan dan pilihan tentang berbagai metode belajar.

Setelah membaca penjelasan singkat di atas, apakah dapat kita simpulkan Montessori adalah metode terbaik diantara keempat metode yang lahir di Eropa tersebut? Jawabannya terletak pada keluarga masing-masing. Mana kah diantara keempat metode tersebut yang paling mampu mengakomodasi kelebihan anak dan nilai yang dipegang oleh keluarga?

(Novita)


Daftar Pustaka
Carpenter, L.  (2017). Difference Between Froebel & Montessori. Diakses lewat http://classroom.synonym.com/difference-between-froebel-montessori-8650720.html

Child Discovery Center. What Is Regio Emilia Approach. Diakses lewat https://childdiscoverycenter.org/non-traditional-classroom/what-is-the-reggio-emilia-approach/ 

Spielgaben. (2017). Comparison among Froebel, Montessori, Reggio Emilia and Waldorf-Steiner Methods-Part 1. Diakses lewat https://spielgaben.com/comparison-froebel-montessori-reggio-waldorf-part-1/


Apakah Metode Montessori Adalah yang Terbaik?

26/12/17

Saat ini metode Montessori menarik minat banyak orang tua di Indonesia. Meningkatnya ketertarikan terhadap Montessori tidak lepas dari bermunculannya komunitas yang peduli terhadap pendidikan anak usia dini dan para ibu Montessorian yang juga merupakan public figure. Apa yang menarik dari metode ini sehingga seolah menjadi trend di kalangan orang tua?

Pada dasarnya Montessori merupakan hal yang baru bagi kebanyakan orang tua, meski metode ini sudah lama masuk ke Indonesia. Montessori menawarkan perspektif yang “menyegarkan” di tengah munculnya rasa skeptis terhadap metode pengajaran yang ada di Indonesia. Kegiatan belajar yang menyenangkan dan filosofi yang digunakan sebagai pendekatan dalam mengajar adalah daya tarik utama.

Tetapi, apakah Montessori adalah metode yang lebih baik atau bahkan terbaik dari metode lainnya? Jika kita ingin menarik sebuah kesimpulan, maka kita harus melihat metode lain sebagai perbandingan. Beberapa orang tua, tanpa menilik sejarah atau filosofinya, menjadi “simpatisan” atau memilih Montessori untuk anak-anaknya. Apakah hal tersebut salah? Sebenarnya tidak juga. Setiap metode pengajaran memiliki kelebihan masing-masing. Jika anak menikmati proses belajar memakai metode tersebut maka tidak menjadi masalah.

Untuk saat ini, mari kita coba membandingkan metode Montessori dengan beberapa metode yang lahir di Eropa seperti Froebel, Reggio Emilia, dan Waldorf-Steiner. Keempat metode tersebut sebenarnya memiliki filosofi pendidikan yang hampir sama yaitu menekankan proses pembelajaran lewat bermain dan self-discovery. Lalu, apakah perbedaannya? Berikut penjelasan singkat dari keempat metode tersebut.

Froebel
Friedrich Froebel berasal dari Jerman dan beliau menyusun program yang menjadi dasar banyak kelompok bermain (KB) saat ini. Froebel menekankan bahwa pendidik pertama adalah keluarga sehingga harus ada ikatan erat antara keluarga di rumah dan sekolah.
  • Area yang dikembangkan: sosial, akademik, emosi, fisik, dan spiritual
  • Metode belajar: gerakan motorik, keterlibatan sosial, ekspresi diri, dan kreatifitas
  • Kesiapan anak: setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda sehingga setiap anak diberikan kesempatan belajar sesuai kesiapan masing-masing
  • Pandangan tentang bermain: bertujuan, harus terstruktur.
  • Peran guru: sebagai pembimbing yang menuntun ke arah pemahaman
  • Ruang kelas: dipersiapkan secara matang, termasuk alat dan bahan yang kemudian diwujudkan ke dalam Froebel Gifts (hadiah) dan Froebel Occupations (tugas).  Di dalam ruang kelas juga murid di dorong untuk melakukan kegiatan yang melibatkan gerak motorik.
  • Kritik: terlalu terstruktur dan terfokus pada gerakan motorik

Froebel Gift: Yarn (gambar dari sini)

Froebel Gift (gambar dari sini)

Contoh dari Froebel Occupation (gambar dari sini)

Overview dari Gift dan Occupation
(gambar dari sini)

Montessori
Maria Montessori mengembangkan metode ini setelah menghadiri kelas pedagogi di Roma, Italia. Berikut penjelasan singkat tentang Montessori.
  • Area yang dikembangkan: fisik, sosial emosi, bahasa, keterampilan hidup (life skill), dan kognisi
  • Metode belajar: kurikulum kosmik yang menekankan pentingnya pengetahuan dasar tentang suatu subjek pembelajaran. Pelajaran berfokus pada keterampilan hidup, sensori, dan bahasa.
  • Kesiapan anak: terdapat masa sensitif atau kritis yaitu masa terbaik bagi anak untuk mempelajari keterampilan tertentu dan tidak bisa kembali lagi ke masa tersebut jika sudah terlewati.
  • Pandangan tentang bermain: bertujuan, harus terstruktur.
  • Peran guru: mengungkap potensi terbaik anak, bukan membentuk anak. guru juga harus mendorong anak untuk mandiri.
  • Ruang kelas: kelas terdiri dari berbagai kelompok usia anak dan disiapkan agar menstimulasi indra dan proses belajar
  • Kritik: terlalu mahal, anak yang lebih kecil tidak selalu mampu mengikuti ritme anak yang lebih besar, kesulitan untuk beradaptasi ke kelas dari sekolah umum

Contoh Pembelajaran Life-Skill
suatu keterampilan atau konsep diajarkan dalam satu rentang waktu
(gambar dari sini)

Didactic Apparatus
(gambar dari sini)

Didactic Apparatus
(gambar dari sini)


Reggio Emilia
Reggio Emilia adalah warga Italia yang menyusun metode pengajaran berdasarkan saling menghormati, tanggung jawab, dan komunitas.
  • Area yang dikembangkan: kognitif, emosi, sosial (berbasis komunitas)
  • Metode belajar: eksplorasi dan menemukan. Anak menemukan makna dari topik pembelajaran  lewat proyek (tugas) jangka panjang yang melibatkan proses observasi, hipotesis, bertanya, dan klarifikasi.  Anak juga didorong untuk mengekspresikan diri dengan cara masing-masing.
  • Pandangan tentang bermain: bertujuan, harus terstruktur.
  • Peran guru: peneliti, partner kerja, pencatat perkembangan anak, dan penasihat. Guru harus mengumpulkan dokumentasi perkembangan setiap anak.
  • Ruang kelas: didesain sebagai “guru ketiga”. Aktivitas belajar disusun dalam bentuk pengalaman stimulasi untuk semua indera seperti meraba, melihat, mendengar, bergerak, berbicara, dan mendengarkan.
  • Kritik: tidak ada susunan metode yang pasti dan juga tidak ada sertifikasi guru

Ruang Kelas Berkonsep Reggio Emilia
(gambar dari sini)

Setiap Meja untuk Mempelajari Konsep atau Keterampilan yang Berbeda
(gambar dari sini)

Guru adalah peneliti, partner kerja, observer, dan penasihat
(gambar dari sini)

Belajar Lewat Berkarya
(gambar dari sini)

Belajar Lewat Berkarya
(gambar dari sini)

Waldorf-Steiner
Rudolf Steiner adalah pengajar berkebangsaan Jerman. Beliau menerapkan filosofi dan tahap perkembangan dari Jean Piaget. Salah satu prinsip dari metode ini adalah meminimalisir paparan teknologi dan televisi pada anak yang masih kecil agar dapat mendorong proses berpikir imajinatif dan memperpanjang fokus perhatian.
  • Area yang dikembangkan: kognitif, emosi, sosial, bahasa, fisik, dan keterampilan hidup (life skill)
  • Metode belajar: kepala, tangan, dan hati merupakan fokus dari kegiatan belajar. Imajinasi adalah salah satu hal yang penting dikembangkan dengan mendongeng, berfantasi, seni, drama, dan prakarya.
  • Pandangan tentang bermain: ada yang bertujuan (disusun) dan ada yang bermain bebas
  • Ruang kelas: ditata secantik mungkin dan dipenuhi dengan bahan-bahan alami yang merangsang bermain secara bebas. Pendekatan multi-disiplin juga digunakan seperti seni untuk belajar matematika. Pelajaran keterampilan hidup mencakup
  • Kritik: ketrampilan membaca diajarkan agak terlambat di usia 7-8 tahun dan para guru yang mengikuti pelatihan Wladorf-Steiner menerima materi tentang roh dan reinkarnasi yang tidak dapat relevan dengan semua orang tua.

Musik dan Berkarya Seni
(gambar dari sini)

Imajinasi Memiliki Peran Penting
(gambar dari sini)

Kegiatan Kelas Satu
(gambar dari sini)

Setiap metode masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Sebagian orang tua memutuskan untuk memilih salah metode secara total yang diwujudkan dengan memilih sekolah dan kegiatan belajar di rumah yang menganut metode tersebut. Sebagian yang lain memiliki beberapa prinsp atau kegiatan yang relevan dengan kondisi masing-masing.

Ada beberapa faktor yang perlu untuk dipertimbangkan yaitu nilai yang dianut keluarga, kondisi, dan minat anak. Orang tua dapat memilah metode mana yang sesuai dengan tujuan keluarga dan nilai yang ingin diajarkan pada anak. di Indonesia sendiri, sekolah yang menganut keempat metode tersebut jumlahnya terbatas. Sehingga tidak dapat dijadikan pilihan secara luas. Tetapi mengenal keempat metode tersebut dapat dikatakan merupakan hal positif bagi orang tua yang memilih homeschooling untuk anaknya, karena dapat memperluas wawasan dan pilihan tentang berbagai metode belajar.

Setelah membaca penjelasan singkat di atas, apakah dapat kita simpulkan Montessori adalah metode terbaik diantara keempat metode yang lahir di Eropa tersebut? Jawabannya terletak pada keluarga masing-masing. Mana kah diantara keempat metode tersebut yang paling mampu mengakomodasi kelebihan anak dan nilai yang dipegang oleh keluarga?

(Novita)


Daftar Pustaka
Carpenter, L.  (2017). Difference Between Froebel & Montessori. Diakses lewat http://classroom.synonym.com/difference-between-froebel-montessori-8650720.html

Child Discovery Center. What Is Regio Emilia Approach. Diakses lewat https://childdiscoverycenter.org/non-traditional-classroom/what-is-the-reggio-emilia-approach/ 

Spielgaben. (2017). Comparison among Froebel, Montessori, Reggio Emilia and Waldorf-Steiner Methods-Part 1. Diakses lewat https://spielgaben.com/comparison-froebel-montessori-reggio-waldorf-part-1/



Montessori method gain tremendous interest among Indonesian parents nowadays. With the increasing number of early learning community and popular Montessorian mothers, Montessori become a happening trend here. Why do Indonesian mothers start to root this method?

Basically, it is something new for most of the parents. It offers fresh perspective about children education in the middle of tiredness and skepticism toward “traditional” teaching method. With various fun learning activities, Montessori easily become favorite. Especially because not only more mothers choose to homeschool their children, but also there is elated number of mothers who aware about the impotance of early learning education.

But is Montessori really better than other methods? If we want to say that it is better or even the best, then we have to have comparison in hand. Some mothers take this for granted, they do not bother to explore more about its history or philosophy. But is it something wrong? I would say, no. Every education method has its own benefits and advantages. Take a little bit here and there will not hurt, as long the children enjoy the process.

A brief overview about the methods could explain the differencess and advantages. For now, we try to compare Montessori with other methods born from Europeans such as Froebel, Reggio Emilia, and Waldorf-Steiner. To compare with other methods used in Indonesia, we will do it next time.

Froebel, Montessori, Reggio Emilia, and Waldorf-Steiner share similar education philosophies which believe that the best way to learn for children is through play and self-discovery. So, what are the differences?

Froebel Method
Friedrich Froebel is a German educator. Thanks to the program he created, it became basis of many preschool today. Froebel pintpoint that as the first educator for children, there should be strong bound between home and school.
  • Developmental areas: social, academic, emotional, physical, and spiritual
  • Method: motor expression, social participation, free self-expression, and creativity
  • Children readiness: children develop at their own developmental pace therefore should be allowed to learn what they are ready for
  •  About play: purposeful, must be structured. There is no such an idle play.
  • Teacher role: as guide to lead understanding
  •  Classroom: carefully prepared (includes tools and materials which materialized in Froebel Giftd and Occupations), all form body movement should be encouraged
  • Criticism: too structured (rigid), too focuse on body movement

 Example of Froebel Gift: Yarn Barn (picture from here
Example of Froebel Gift: Sphere, Cylinder, Cube 
(picture from here)


Example of Froebel Occupation 
(picture from here)

Overview of The Gifts and Occupations
(picture from here)

Montessori Method
Maria Montessori developed her method after attending pedagogy course in Rome, Italy. Here is brief explanation about Montessori method.
  • Developmental areas: physical, social, emotional, language, life-skills and cognitive abilities
  • Method: “cosmic” curriculum (stresses the background knowledge about a subject), lessons focus on practical life, sensory and language.
  • Children readiness: there are sensitive/critical period which is the best time children obtain certain skills and can not backward again to this time.
  • About play: purposeful, structured
  • Teacher role: to open children potentions at best, not to  mold them. Encourage children to be independent
  • Classroom: mixed age goups class, prepared environment to stimulate sense and learning
  • Criticism: too pricey, younger children can’t keep up with the older, difficulty to adapt in conservative classroom
Montessori: Teach One Skill or Concept at A Time
(picture from here)

Montessori The Didactic Apparatus
(picture from here)

Montessori The Didactic Apparatus
(picture from here)



Reggio Emilia Method
Reggio Emilia is Italian educator which his methods based on respect, responsibility and community.
  • Developmental areas: cognitive, social (community based), emotion
  • Method: emergent curriculum which requires teacher to observe and listen to the children. Learning through exploration and discovery, children make their own meaning of a subject which attained through various long-term projects involving process of observation, hypothesis, question, and clarification. Children also encouraged to express themself in their own ways.
  • About play: purposeful, structured
  • Teacher role: researcher, co-constructor of knowledge along with children, documenter, and advocat for the children. Teacher should collect documentation of the children.
  • Classroom: designed as seen to be the third teacher. Activities designed as experiences of all sense such as touching, seeing, hearing, moving, speaking, and listening.
  • Criticism: no defined methods and teacher certification
Regio Emilia Classroom
(picture from here)

Regio Emilia Inspired Classroom: Each Table Serves Different Subject
(picture from here)

Learning Through Constructing
(picture from here)

Thinking Through Constructing
(picture from here)

Teacher as Reseacher and Documenter
(picture from here)



Waldorf Steiner Method
Another German educator that is Rudolf Steiner who implemented Jean Piaget philosophies and children development stages. One of the keys principle of Waldorf is discourangement of technology and television exposure to young age children due to enhanced creative imaginative thinking and extended attention span.
  • Developmental areas: cognitive, social, emotion, languange, physical, life-skills
  • Method: head, hands, and heart basis that stimulate all children senses. Imagination plays important part in learning process encouraged by strory telling, fantasy, art, drama, and craft
  • About play: designed, free play
  • Classroom: designed as aesthetically as it can be, filled with natural materials that stimulate free play. Multi-disciplinary approach is implemented such as art as a way to learn math. Life-skills including wood carving, sewing, gardening, sculpting, knitting, and playing musical instruments.
  •  Criticism: reading skill is taught bit late at age seven or eight, teachers are received theories about spirits and reincarnation that do not settle well for every parents.
Waldorf-Steiner Classroom
(picture from here)

Waldorf-Steiner: Art Plays Important Role
(picture from here)

Waldorf-Steiner Grade 1: Art Plays Important Role
(picture from here)

As explained, every methods has its own benefits and critics. Some parents decide to fully embrace one of the methods by selecting schools and activities in home that relevant with particular method they choose. Some other pick just some principles or activities they see suitable with them.

There are several factors needed to be considered such as family value, condition, and children interest. Parents can contemplate which method that relevant to their goal and what value they want their children taught of. As per condition, in Indonesia, there are limited number of schools that based on these four methods. It is to say that parents have limited choices. But for the homeschool parents that have more flexibility, it is helpful to know various method so they can really choose.


So, in the Indonesia context, is Montessori the best among other Europeans methods? The answer itself lies in your family and children condition. Which among these four can accomodate your children and family values at best?

(Novita)

References
Carpenter, L.  (2017). Difference Between Froebel & Montessori. Accessed through http://classroom.synonym.com/difference-between-froebel-montessori-8650720.html

Child Discovery Center. What Is Regio Emilia Approach. Accessed through https://childdiscoverycenter.org/non-traditional-classroom/what-is-the-reggio-emilia-approach/ 

Spielgaben. (2017). Comparison among Froebel, Montessori, Reggio Emilia and Waldorf-Steiner Methods-Part 1. Accessed through https://spielgaben.com/comparison-froebel-montessori-reggio-waldorf-part-1/


Is Montessori Method Better Than The Others?

25/12/17


Montessori method gain tremendous interest among Indonesian parents nowadays. With the increasing number of early learning community and popular Montessorian mothers, Montessori become a happening trend here. Why do Indonesian mothers start to root this method?

Basically, it is something new for most of the parents. It offers fresh perspective about children education in the middle of tiredness and skepticism toward “traditional” teaching method. With various fun learning activities, Montessori easily become favorite. Especially because not only more mothers choose to homeschool their children, but also there is elated number of mothers who aware about the impotance of early learning education.

But is Montessori really better than other methods? If we want to say that it is better or even the best, then we have to have comparison in hand. Some mothers take this for granted, they do not bother to explore more about its history or philosophy. But is it something wrong? I would say, no. Every education method has its own benefits and advantages. Take a little bit here and there will not hurt, as long the children enjoy the process.

A brief overview about the methods could explain the differencess and advantages. For now, we try to compare Montessori with other methods born from Europeans such as Froebel, Reggio Emilia, and Waldorf-Steiner. To compare with other methods used in Indonesia, we will do it next time.

Froebel, Montessori, Reggio Emilia, and Waldorf-Steiner share similar education philosophies which believe that the best way to learn for children is through play and self-discovery. So, what are the differences?

Froebel Method
Friedrich Froebel is a German educator. Thanks to the program he created, it became basis of many preschool today. Froebel pintpoint that as the first educator for children, there should be strong bound between home and school.
  • Developmental areas: social, academic, emotional, physical, and spiritual
  • Method: motor expression, social participation, free self-expression, and creativity
  • Children readiness: children develop at their own developmental pace therefore should be allowed to learn what they are ready for
  •  About play: purposeful, must be structured. There is no such an idle play.
  • Teacher role: as guide to lead understanding
  •  Classroom: carefully prepared (includes tools and materials which materialized in Froebel Giftd and Occupations), all form body movement should be encouraged
  • Criticism: too structured (rigid), too focuse on body movement

 Example of Froebel Gift: Yarn Barn (picture from here
Example of Froebel Gift: Sphere, Cylinder, Cube 
(picture from here)


Example of Froebel Occupation 
(picture from here)

Overview of The Gifts and Occupations
(picture from here)

Montessori Method
Maria Montessori developed her method after attending pedagogy course in Rome, Italy. Here is brief explanation about Montessori method.
  • Developmental areas: physical, social, emotional, language, life-skills and cognitive abilities
  • Method: “cosmic” curriculum (stresses the background knowledge about a subject), lessons focus on practical life, sensory and language.
  • Children readiness: there are sensitive/critical period which is the best time children obtain certain skills and can not backward again to this time.
  • About play: purposeful, structured
  • Teacher role: to open children potentions at best, not to  mold them. Encourage children to be independent
  • Classroom: mixed age goups class, prepared environment to stimulate sense and learning
  • Criticism: too pricey, younger children can’t keep up with the older, difficulty to adapt in conservative classroom
Montessori: Teach One Skill or Concept at A Time
(picture from here)

Montessori The Didactic Apparatus
(picture from here)

Montessori The Didactic Apparatus
(picture from here)



Reggio Emilia Method
Reggio Emilia is Italian educator which his methods based on respect, responsibility and community.
  • Developmental areas: cognitive, social (community based), emotion
  • Method: emergent curriculum which requires teacher to observe and listen to the children. Learning through exploration and discovery, children make their own meaning of a subject which attained through various long-term projects involving process of observation, hypothesis, question, and clarification. Children also encouraged to express themself in their own ways.
  • About play: purposeful, structured
  • Teacher role: researcher, co-constructor of knowledge along with children, documenter, and advocat for the children. Teacher should collect documentation of the children.
  • Classroom: designed as seen to be the third teacher. Activities designed as experiences of all sense such as touching, seeing, hearing, moving, speaking, and listening.
  • Criticism: no defined methods and teacher certification
Regio Emilia Classroom
(picture from here)

Regio Emilia Inspired Classroom: Each Table Serves Different Subject
(picture from here)

Learning Through Constructing
(picture from here)

Thinking Through Constructing
(picture from here)

Teacher as Reseacher and Documenter
(picture from here)



Waldorf Steiner Method
Another German educator that is Rudolf Steiner who implemented Jean Piaget philosophies and children development stages. One of the keys principle of Waldorf is discourangement of technology and television exposure to young age children due to enhanced creative imaginative thinking and extended attention span.
  • Developmental areas: cognitive, social, emotion, languange, physical, life-skills
  • Method: head, hands, and heart basis that stimulate all children senses. Imagination plays important part in learning process encouraged by strory telling, fantasy, art, drama, and craft
  • About play: designed, free play
  • Classroom: designed as aesthetically as it can be, filled with natural materials that stimulate free play. Multi-disciplinary approach is implemented such as art as a way to learn math. Life-skills including wood carving, sewing, gardening, sculpting, knitting, and playing musical instruments.
  •  Criticism: reading skill is taught bit late at age seven or eight, teachers are received theories about spirits and reincarnation that do not settle well for every parents.
Waldorf-Steiner Classroom
(picture from here)

Waldorf-Steiner: Art Plays Important Role
(picture from here)

Waldorf-Steiner Grade 1: Art Plays Important Role
(picture from here)

As explained, every methods has its own benefits and critics. Some parents decide to fully embrace one of the methods by selecting schools and activities in home that relevant with particular method they choose. Some other pick just some principles or activities they see suitable with them.

There are several factors needed to be considered such as family value, condition, and children interest. Parents can contemplate which method that relevant to their goal and what value they want their children taught of. As per condition, in Indonesia, there are limited number of schools that based on these four methods. It is to say that parents have limited choices. But for the homeschool parents that have more flexibility, it is helpful to know various method so they can really choose.


So, in the Indonesia context, is Montessori the best among other Europeans methods? The answer itself lies in your family and children condition. Which among these four can accomodate your children and family values at best?

(Novita)

References
Carpenter, L.  (2017). Difference Between Froebel & Montessori. Accessed through http://classroom.synonym.com/difference-between-froebel-montessori-8650720.html

Child Discovery Center. What Is Regio Emilia Approach. Accessed through https://childdiscoverycenter.org/non-traditional-classroom/what-is-the-reggio-emilia-approach/ 

Spielgaben. (2017). Comparison among Froebel, Montessori, Reggio Emilia and Waldorf-Steiner Methods-Part 1. Accessed through https://spielgaben.com/comparison-froebel-montessori-reggio-waldorf-part-1/



Revolusi internet dimulai sejak jaman 1980. Kemajuan dalam bidang teknologi membuat masyarakat menjadi melek informasi, dikarenakan arus informasi yang bergerak sangat cepat. Namun di sisi lain banjir informasi menjadi sarang empuk untuk tersebarnya berita yang mengandung kebohongan. Kemajuan bermedia sosial yang tidak dibarengi dengan literasi digital menyebabkan berita hoax tersebar dengan mudahnya. Sumber Tirto id menyebutkan bahwa dari 1.002 responden orang dewasa mengaku telah membagikan berita yang mereka sndiri masih meragukan kebenarannya.  Kondisi ini menggambarkan bahwa orang dewasa yang notabene dianggap memiliki pemahaman lebih masih bisa abai dengan berita hoax. Survey Common Sense Media yang dilakukan di amerika pada awal 2017 menunjukkan bahwa dari 853 responden sebanyak 31 persen meragukan perihal kebenaran berita yang mereka sebarkan.

Gambar dari sini

Hoax memiliki arti ketidakbenaran dari suatu informasi. Berita ini mengecoh dan mendoktrin para pembacanya, sehingga para pembaca akan mengikuti kemauan penulis berita hoax. Seringnya isi dari berita hoax memiliki konten-konten yang provokatif dan menyebarkan kebencian, rasa was-was, rasa saling curiga dan kekhawatiran pada masyarakat. Unggahan hoax bisa berupa narasi, maupun meme yang tamilannya mengarahkan opini pembaca untuk berpandangan negatif pada kelompok masyarakat lain.
Terkait dengan conten yang tidak sehat ini, tentu saja membuat kita sebagai orang tua merasa was-was dengan bacaan anak. Apalagi kita memahami bahwa anak adalah pembelajar yang cepat. Bagaimana nasib mereka ketika banyak dicekoki dengan berita-berita kebohongan yang memiliki maksud buruk?

Menjadikan anak steril dari dunia internet agar anak terhindar dari efek negatif adalah hal yang tidak mungkin dikarenakan anak sekarang sudah hidup dijaman yang membutuhkan koneksi dan informasi. Orang tua tidak boleh gagap teknologi, orang tua perlu tahu dan bahkan bisa jadi belajar bersama anak terkait dengan teknologi informasi. Sehingga tugas kita sebagai orang tua adalah membuat anak-anak kita memiliki imunitas terhadap berita-berita dan pengetahuan yang mengecoh mereka.

Anak-anak yang terlarut dalam berita hoax tentu akan memiliki pemahaman yang keliru. Terlebih menjadi berbahaya ketika anak hanya percaya pada bacaannya dan memiliki paham yang ekstrim karena ‘tercuci otaknya’ oleh konten-konten kebohongan yang tidak sehat. Perlu bagi kita sebagai orang tua untuk menumbuhkan sikap kritis atas informasi yang tersebar, termasuk mencoba mendeteksi berita-berita yang dianggap meragukan.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi permasalahan ini?

1.     Mendampingi anak. pendampingan yang tepat adalah dengan memperhatikan aktivitas apa saja yang dilakukan anak di media sosial. Agar pendampingan terasa menyenangkan hendaknya orang tua memabangun komunikasi yang hangat dengan anak, sehingga mereka merasa nyaman untuk bercerita tentang aktivitas berselancar mereka dan tidak merasa dimata-matai. Dengan melakukan aktivitas bersama, anda dapat membimbing sekaligus mencari informasi bersama. 

2.     Berdiskusi bersama anak. ketika menemukan berita yang diduga hoax. Dalam kegiatan berselancar bersama bukan hal mustahil ketika anak dan anda menemukan berita yang mencurigakan. Ketika menemukan berita tersebut, justru merupakan saat yang tepat untuk menelusurinya bersama anak sembari berdiskusi dan bertanya pendapat anak mengenai berita tersebut.

3.     Menanamkan nilai-nilai positif pada anak. tidak sedikit berita hoax berisi tentang ujaran kebencian pada kelompok tertentu, jika dengan mudah kita naik pitam karena berita-berita tertentu, maka kita berhasil di ‘permainkan’ oleh pihak yang menciptakan berita hoax. Tanamkan kepada anak sikap-sikap positif sebelum terlalu cepat mengambil kesimpulan atas berita yang dia peroleh, dengan mencari berita pembanding dan melakukan penelusuran kebenaran berita.

Kepandaian tidak menentukan apakah seseorang mampu untuk memahami sebuah berita merupakan hoax atau bukan, namun bagaimana anak mampu mengembangkan skill berpikir kritis akan membantu mereka menyikapi informasi di lingkungannya dengan lebih bijak.

Laelatus Syifa Sari Agustina

Mendampingi Anak Menghadapi Kabar Hoax


Revolusi internet dimulai sejak jaman 1980. Kemajuan dalam bidang teknologi membuat masyarakat menjadi melek informasi, dikarenakan arus informasi yang bergerak sangat cepat. Namun di sisi lain banjir informasi menjadi sarang empuk untuk tersebarnya berita yang mengandung kebohongan. Kemajuan bermedia sosial yang tidak dibarengi dengan literasi digital menyebabkan berita hoax tersebar dengan mudahnya. Sumber Tirto id menyebutkan bahwa dari 1.002 responden orang dewasa mengaku telah membagikan berita yang mereka sndiri masih meragukan kebenarannya.  Kondisi ini menggambarkan bahwa orang dewasa yang notabene dianggap memiliki pemahaman lebih masih bisa abai dengan berita hoax. Survey Common Sense Media yang dilakukan di amerika pada awal 2017 menunjukkan bahwa dari 853 responden sebanyak 31 persen meragukan perihal kebenaran berita yang mereka sebarkan.

Gambar dari sini

Hoax memiliki arti ketidakbenaran dari suatu informasi. Berita ini mengecoh dan mendoktrin para pembacanya, sehingga para pembaca akan mengikuti kemauan penulis berita hoax. Seringnya isi dari berita hoax memiliki konten-konten yang provokatif dan menyebarkan kebencian, rasa was-was, rasa saling curiga dan kekhawatiran pada masyarakat. Unggahan hoax bisa berupa narasi, maupun meme yang tamilannya mengarahkan opini pembaca untuk berpandangan negatif pada kelompok masyarakat lain.
Terkait dengan conten yang tidak sehat ini, tentu saja membuat kita sebagai orang tua merasa was-was dengan bacaan anak. Apalagi kita memahami bahwa anak adalah pembelajar yang cepat. Bagaimana nasib mereka ketika banyak dicekoki dengan berita-berita kebohongan yang memiliki maksud buruk?

Menjadikan anak steril dari dunia internet agar anak terhindar dari efek negatif adalah hal yang tidak mungkin dikarenakan anak sekarang sudah hidup dijaman yang membutuhkan koneksi dan informasi. Orang tua tidak boleh gagap teknologi, orang tua perlu tahu dan bahkan bisa jadi belajar bersama anak terkait dengan teknologi informasi. Sehingga tugas kita sebagai orang tua adalah membuat anak-anak kita memiliki imunitas terhadap berita-berita dan pengetahuan yang mengecoh mereka.

Anak-anak yang terlarut dalam berita hoax tentu akan memiliki pemahaman yang keliru. Terlebih menjadi berbahaya ketika anak hanya percaya pada bacaannya dan memiliki paham yang ekstrim karena ‘tercuci otaknya’ oleh konten-konten kebohongan yang tidak sehat. Perlu bagi kita sebagai orang tua untuk menumbuhkan sikap kritis atas informasi yang tersebar, termasuk mencoba mendeteksi berita-berita yang dianggap meragukan.

Lalu bagaimana sikap kita menghadapi permasalahan ini?

1.     Mendampingi anak. pendampingan yang tepat adalah dengan memperhatikan aktivitas apa saja yang dilakukan anak di media sosial. Agar pendampingan terasa menyenangkan hendaknya orang tua memabangun komunikasi yang hangat dengan anak, sehingga mereka merasa nyaman untuk bercerita tentang aktivitas berselancar mereka dan tidak merasa dimata-matai. Dengan melakukan aktivitas bersama, anda dapat membimbing sekaligus mencari informasi bersama. 

2.     Berdiskusi bersama anak. ketika menemukan berita yang diduga hoax. Dalam kegiatan berselancar bersama bukan hal mustahil ketika anak dan anda menemukan berita yang mencurigakan. Ketika menemukan berita tersebut, justru merupakan saat yang tepat untuk menelusurinya bersama anak sembari berdiskusi dan bertanya pendapat anak mengenai berita tersebut.

3.     Menanamkan nilai-nilai positif pada anak. tidak sedikit berita hoax berisi tentang ujaran kebencian pada kelompok tertentu, jika dengan mudah kita naik pitam karena berita-berita tertentu, maka kita berhasil di ‘permainkan’ oleh pihak yang menciptakan berita hoax. Tanamkan kepada anak sikap-sikap positif sebelum terlalu cepat mengambil kesimpulan atas berita yang dia peroleh, dengan mencari berita pembanding dan melakukan penelusuran kebenaran berita.

Kepandaian tidak menentukan apakah seseorang mampu untuk memahami sebuah berita merupakan hoax atau bukan, namun bagaimana anak mampu mengembangkan skill berpikir kritis akan membantu mereka menyikapi informasi di lingkungannya dengan lebih bijak.

Laelatus Syifa Sari Agustina

Instagram